Minggu, 03 April 2011

Guyonan Ala Gusdur

Gitu aja kok repot.

Wacana politik paling populer saat Gus Dur jadi Presiden adalah kalimat “gitu saja kok repot!” Kini Papua bergolak akibat ulah investor. Kalimat dari Gus Dur itu pun hadir kembali di tengah kita dengan sedikit modifikasi: “Gitu saja kok Freeport!”

Gendut

Seorang ibu agak kuatir mengamati pertumbuhan anak gadisnya, Si Tumpluk, yang punya selera makan luar biasa. Setiap saat badannya bertambah tambun saja. Oleh karenanya, suatu hari ia menasihati sang anak.

Ibu : “Begini Nak, Ibu anjurkan agar setiap pagi kamu sarapan bubur saja!”
Tumpluk : “Baik, Bu. Sarapan buburnya sebelum atau sesudah makan pagi ????

3 polisi yang baik

Saat ngobrol-ngobrol santai dengan para wartawan, di rumahnya JL Warung Silah Ciganjur, Kamis (17/3) siang, Gus Dur melontarkan lelucon soal polisi. Lelucon yang sebenarnya juga kritikan itu dilontarkannya menjawab pertanyaan wartawan perihal moralitas polisi yang kian banyak dipertanyakan.
“Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi dan polisi tidur,” selorohnya.

Tunggulah Usia sama

Sudah lama Bagong naksir cewek yang tinggal di kampung sebelah. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Cewek itu menerima cinta Bagong dengan sepenuh hati, meski “Proklamasi cinta” Bagong dilakukan di gang sempit di pinggir selokan.

Sayang, kisah kasih di selokan itu tidak berjalan mulus. Orangtua si gadis keberatan karena Bagong belum bekerja. Namun, keduanya pantang menyerah. Bahkan, setelah beberapa bulan menjalin kasih, Bagong memberanikan diri melamar. Ia menemui ayah si gadis.

“Pak, kami sudah saling cinta, maka kami akan menikah. Kapan saya boleh menikahi anak bapak?” kata Bagong. Ayah si gadis jelas menolak. Namun untuk berkata terus terang, ia tidak sampai hati.

“Begina Nak Bagong. Bukan saya keberatan, tapi tunggulah saat yang tepat. Saat ini umur anak saya 20 tahun, umur Nak Bagong 24 tahun. Jadi, tunggulah sampai umur kalian sama,” kata si bapak. Kontan saja si Bagong langsung pingsan ….



Jin dan Tiga Manusia

Jin dan Tiga Manusia Menurut Gus Dur, pernah ada sebuah kapal berisi penumpang berbagai bangsa karam. Ada tiga orang yang selamat, masing-masing dari Perancis, Amerika dan Indonesia. Mereka terapung-apung di tengah laut dengan hanya mengandalkan sekeping papan.

Tiba-tiba muncul jin yang baik hati. Dia bersimpati pada nasib ketiga bangsa manusia itu, dan menwarkan jasa. “Kalian boleh minta apa saja, akan kupenuhi,” kata sang jin. Yang pertama ditanya adalah si orang Perancis.

“Saya ini petugas lembaga sosial di Paris,” katanya.
“Banyak orang yang memerlukan tenaga saya. Jado tolonglah saya dikembalikan ke negeri saya.” Dalam sekejap, orang itu lenyap, kembali ke negerinya.

“Kamu, orang Amerika, apa permintaanmu?”

“Saya ini pejabat pemerintah. Banyak tugas saya yang terlantar karena kecelakaan ini. Tolonglah saya dikembalikan ke Washington.”

“Oke,” kata jin, sambil menjentikkan jarinya. Dan orang Amerika lenyap seketika, kembali ke negerinya.

“Nah sekarang tinggal kamu orang Indonesia. Sebut saja apa maumu.”

” Duh, Pak Jin, sepi banget disini,” keluh si orang Indonesia. “Tolonglah kedua teman saya tadi dikembalikan ke sini.”

Zutt, orang Perancis dan Pria Amerika itu muncul lagi.

Gus dur beli pesawat

Dalam kunjungannya ke Amerika Serikat dulu, Pertengahan tahun 2000, Gus Dur bertemu dengan eksekutif puncak Boeing, industri pusat raksasa pesawat terbang. Orang pun bertanya-tanya, apa pula urusannya Gus Dur dengan pembuat pesawat itu? Memangnya dia ahli pesawat terbang seperti Habibie?

Akhirnya kepala protokol Istana Presiden Wahyu Muryadi mengungkapkan maksud pertemuan itu, Gus Dur mau beli pesawat kepresidenan, yang selama ini memang tidak pernah dimiliki oleh pemerintah Indonesia. Kebiasaan Gus Dur tetap ampuh, bikin pernyataan kontroversial di luar negeri, dan menimbulkan reaksi di dalam negeri.

Pers Indonesia pun sibuk mengusut rencana pembelian pesawat yang waktunya dirasa tidak tepat itu. Krisis ekonomi saja sama sekali terlihat belum diatasi, lha kok Presiden RI mau punya pesawat pribadi. “Perlu dong,” kata Wahyu Muryadi sambil membandingkan dengan Presiden Amerika serikat, yang sudah lama memiliki air force one yang mewah itu.

Dari mana uang puluhan juta dollar untuk membeli pesawat itu? Menko Rizal Ramli, yang bekas aktivis dan pengamat ekonomi yang kritis kok malah bilang siap melaksanakan dan uang untuk pembelian pesawat sudah ada. Apa ini bukan pemborosan uang negara? Apa memang ada “uang nganggur” di laci pemerintah? Apa Rizal Ramli ingin cari muka kepada bosnya?

Mendengar sikap siap melaksanakan Rizal Ramli, kritik publik kian gencar. Sampai Gus Dur sendiri kembali ke Jakarta.

Wartawan bertanya,”Gus, mengapa Anda merasa perlu membeli pesawat Boeing itu?”

Jawab Gus Dur, “Lho, siapa yang mau beli pesawat?”

Wahyu Muryadi dan Rizal Ramli kali ini yang pusing. Sudah sibuk membela rencana Gus Dur, eh yang dibela malah membantahnya.

Kuli dan Kyai

Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Yaman berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa. Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius dalam bahasa Arab.

Melihat itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka, sambil berucap: Amin, Amin, Amin!

Gus Dur yang sedang berada di bandara itu menghampiri mereka:

“Lho kenapa Anda berkerumun di sini?”

“Mereka terlihat sangat fasih berdo’a, apalagi pakai serban, mereka itu pasti kyai.”

Rabu, 30 Maret 2011

Dasar SH TERATE

sesungguhnya kehidupan manusia sebagai mahkluk Tuhan yang terutama, hendak menuju keabadian kembali kepada causa prima titik tolak segala sesuatu yang ada, melalui tingkat ke tingkat namun tidak setiap insan menyadari bahwa apa yang dikejar-kejar itu telah tersimpan menyelinap di lubuk hati nuraninya. SETIA HATI sadar menyakini akan hakiki hayati itu dan akan mengajak serta para warganya menyingkap tabir/tirai selubung hati nurani dimana “SANG MUTIARA HIDUP” bertahta.

Manusia Dapat Dihancurkan Manusia Dapat Dimatikan Tetapi Manusia Tidak Dapat Dikalahkan, Selama Manusia Itu Masih Setia Pada Hatinya Sendiri Atau Ber-SH.

* sepiro gedhene sengsoro yen tinompo amung dhadi cubo( seberapa besar masalh jika diterima dengan lapang/ikhlas hanya menjadi cobaan/ringan

* Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan

Rabu, 02 Februari 2011

Loyalitas Warga Setia Hati Terate


Loyalitas organisasi, atau kesetiaan terhadap organisasi adalah faktor penting yang menentukan hidup matinya organisasi. Loyalitas organisasi dapat membuat sebuah organisasi tumbuh berkembang menjadi besar, atau justru mati perlahan-lahan. Loyalitas terhadap organisasilah yang membuat seorang karyawan bekerja setiap hari di perusahaan, simpatisan parpol menyumbang dana kampanye untuk calon pilihannya, atau seorang mahasiswa rela bekerja sebagi panitia acara kampus. Dengan kata lain, loyalitas terhadap organisasi adalah urat nadi sebuah organisasi, sesuatu yang membuat para anggotanya berperilaku, bertindak, atau berkorban demi kepentingan organisasi.

Bagaimana di SH Terate?
Loyalitas organisasi adalah sesuatu yang sangat vital di SH Terate. Vital karena SH Terate adalah organisasi “non profit” yang tujuannya bukan untuk mencari keuntungan. SH Terate juga tidak berafiliasi pada aliran politik manapun, pada agama tertentu, atau pada segolongan tertentu. Artinya eksistensi organisasi SH Terate semata-mata ditentukan oleh rasa memiliki anggota organisasi (Warga) terhadap SH Terate, yang dimana rasa memiliki itu dinaungi oleh rasa persaudaraan antara masing-masing anggota. Itulah SH Terate kita.

Bagaimana loyalitas Warga SH Terate terhadap SH Terate, selama ini?

Ada tiga jenis loyalitas Warga di SH Terate.
Yaitu loyalitas material, loyalitas emosional, dan loyalitas spiritual.
Berikut akan diterangkan satu persatu.

Loyalitas material, yaitu loyalitas semata-mata karena imbalan materi yang didapatnya dari SH Terate. Dengan kata lain, Warga tersebut hanya eksis, aktif di SH Terate bila SH Terate memberikan imbalan kepadanya yang bersifat material. Material yang dimaksud disini bukan hanya uang, tetapi juga “materi/benda” lainnya seperti misalnya makanan, minuman, bingkisan hadiah, fasilitas dsb. Karena loyalitasnya semata-mata ditentukan materi, maka Warga tersebut hanya aktif bila ada imbalan materi. Demikian sebaliknya, apabila ada suatu hal di SH Terate yang membutuhkan pengorbanan materi dari anggotanya, biasanya warga tersebut enggan untuk memberikan. Karena itulah, loyalitas ini yang paling rendah tingkatannya.

Loyalitas emosional, yaitu loyalitas semata-mata karena “imbalan emosional” yang didapatnya di SH Terate. Loyalitas emosional lebih tinggi tingkatannya daripada loyalitas material. Pada loyalitas emosional, warga tersebut aktif karena SH Terate memberikan pengalaman atau perasaan yang menyenangkan baginya. Keakraban, ikatan emosional antara warga, pengalaman mendebarkan saat bertanding atau berkelahi, perasaan superior (merasa kuat), pujian, penghargaan atau penghormatan dari orang-orang/warga lain, dsb… semua itu adalah imbalan yang bersifat “emosional” yang diberikan oleh SH Terate. Artinya Warga tersebut hanya aktif selama SH Terate menyenangkan baginya. Demikian sebaliknya, bila ia mendapat pengalaman tidak menyenangkan di SH Terate, ia akan marah/kecewa (mutung) kemudian berhenti aktif.

Loyalitas yang paling tinggi tingkatannya adalah loyalitas spiritual. Loyalitas ini bersifat internal, muncul dari dalam diri seorang warga SH Terate sendiri. Keaktifannya di SH Terate tidak dipengaruhi oleh materi ataupun ikatan emosional. Keakatifannya di SH Terate semata-mata karena “saya adalah orang SH Terate”, semata-mata karena rasa tanggung jawab menjadi seorang insan SH Terate. Pada tingkatan ini, seorang warga tidak memiliki alasan apapun untuk aktif, selain karena rasa tanggung jawabnya terhadap SH Terate. Mendapatkan imbalan materi atau penghormatan/pujian bukan hal yang penting baginya. Demikian juga sebaliknya, bila ada kesempatan ia rela mengorbankan materi, atau bila ia menemui kekecewaan atau pengalaman buruk di SH Terate, hal itu tidak membuatnya mundur untuk beraktivitas di SH Terate. Ketika loyalitas material dan emosional masih bersifat eksternal, dipengaruhi oleh sesuatu di luar diri seorang Warga, maka loyalitas spritual sudah bersifat internal, berasal dari dalam diri sendiri, digerakkan semata-mata oleh hati nurani (consience) yang mampu membedakan mana benar mana salah.

Bahasa awamnya, loyalitas material adalah “saya aktif di SH Terate karena saya mendapatkan sesuatu (barang/uang)”; loyalitas emosional adalah “saya aktif di SH Terate karena merasa senang disitu”, dan loyalitas spiritual adalah “saya aktif di SH Terate karena saya orang SH Terate”.

Sebagian besar warga SH Terate masih terjebak di loyalitas material dan emosional. Belum banyak yang mampu melangkah ke loyalitas spiritual. Dan loyalitas ini tidak ditentukan oleh tingkatan, apakah tingkat I atau II, dan juga tidak ditentukan oleh lamanya seseorang menjadi warga SH Terate. Kadang ada warga yang sudah bertahun-tahun disahkan namun baru sampai di tingkat loyalitas material, tetapi ada juga warga yang baru disahkan langsung memiliki loyalitas emosional.

Namun loyalitas macam apa yang dimiliki hanya bisa diketahui oleh diri masing-masing. Artinya hanya kita sendiri yang tahu loyalitas apa yang kita berikan pada SH Terate. Apakah masih bersifat material, emosional, atau sudah spiritual? Hanya kita sendiri yang tahu

Rabu, 29 September 2010

PELAPISAN LOGAM

Pelatihan Verkroom, Vernikel, Hardchrome. pada besi, tembaga, aluminium.

Diajarkan mulai dari proses pencucian logam/solvent cleaning,
degreaser, pickling, Electro Cleaning, hingga Poles/finishing.Kursus
Verchoom, diajarkan teknik pelapisan logam chroom pada besi, aluminium,
tembaga, baja. Hasil logam setelah di lapis akan Halus, Licin,
Mengkilap, Cemerlang & Anti Karat.

Kursus Anodes (Pelapisan Warna Warni pada Aluminium, Cemerlang,
anti Gores &karat)Anodizing Technique. Pelapisan Aneka warna pada
Aluminium, untuk asesoris kendaraan bermotor, panci, asesoris mobil,
velg, handle pintu, dll. Diajarkan Teknik Melapis aneka warna yang
mengkilat, tahan lama, anti karat & Indah.


Kursus Gold Plating (Pelapisan Emas). Untuk Perhiasan imitasi,
warna kuning emas 22K, kuning kemerahan, merah, diajarkan cara
pencampuran larutan, pelapisan nikel kilap untuk imitasi, pre treatment
& post treatment.


Pelatihan Brass Plating (Pelapisan warna kuning emas, coklat, hitam
kopi).Brass Plating adalah Teknik Electroplating yang menghasilkan
warna kuning emas, kuning kecoklatan & Hitam Kopi. Besi & Logam
yang dilapis akan halus permukaannya & mengkilat. Diajarkan Teknik
pelapisan logam – Electro plating dengan rinci, peserta akan dibimbing
oleh instruktur yang berpengalaman sampai bisa

Cara Pelapisan Logam Secara Listrik (Elektroplating)

elektroplatingPELAPISAN TEMBAGA
Dalam pelapisan tembaga digunakan bermacam-macan larutan elektrolit, yaitu :
1. Larutan asam
2. Larutan sianida
3. Larutan fluoborat
4. Larutan pyrophosphat
Diantara empat macam larutan di atas yang paling banyak digunakan adalah larutan asam dan larutan sianida

PELAPISAN TIMAH PUTIH
Pelapisan timah putih pada besi dengan cara listrik (elektroplating) sudah sangat lama dilakukan untuk kaleng-kaleng makanan, minuman dan sebagainya. Pelapisan secara listrik pada umumnya sudah menggantikan pelapisan secara celup panas, karena pelapisan secara celup panas menghasilkan lapisan yang tebal dan kurang merata (kurang halus) sedangkan pelapisan secara listrik dapat menghasilkan lapisan yang tipis dan lebih merata/halus. Dengan keuntungan tersebut pada saat ini lebih banyak industri yang melakukan pelapisan timah putih secara listrik dari pada secara celup panas (Hot Dip Galvanizing)..

PELAPISAN SENG
Seng sudah lama dikenal sebagai pelapis besi yang tahan korosi, murah harganya, dan mempunyai tampak permukaan yang cukup baik. Pelapisan senga pada besi dilaksanakan dengan beberapa cara seperti galvanizing, sherardizing, atau metal spraying. Namun pelapisan secara listrik (elektroplating) lebih disukai karena mempunyai beberapa keuntungan bila dibandingkan dengan cara-cara pelapisan yang lain, diantaranya :

a. Lapisan lebih merata
b. Daya rekat lapisan lebih baik
c. Tampak permukaan lebih baik

Karena beberapa keuntungan itulah maka lebih banyak dilaksanakan pelapisan secara listrik daripada cara-cara lainnya. Pelapisan seng secara listrik kadang juga disebut elektro-galvanizing. Larutan elektrolit yang sering digunakan ada dua macam yaitu larutan asam dan larutan sianida. Bila kedua larutan tersebut dibandingkan maka permukaan lapisan hasil dari penggunaan larutan sianida adalah lebih baik jika dibandingkan dengan larutan asam. Namun larutan asam digunakan bila dikehendaki kecepatan pelapisan yang tinggi dan biaya yang lebih murah.

Larutan lain yang sering digunakan pada pelapisan adalah larutan alkali zincat dan larutan pyrophosphat.

PELAPISAN NIKEL
Pada saat ini, pelapisan nikel pada besi banyak sekali dilaksanakan baik untuk tujuan pencegahan karat ataupun untuk menambah keindahan. Dengan hasil lapisannya yang mengkilap maka dari segi ini nikel adalah yang paling banyak diinginkan untuk melapis permukaan. Dalam pelapisan nikel selain dikenal lapisan mengkilap, terdapat juga jenis pelapisan yang buram hasilnya. Akan tetapi tampak permukaan yang buram inipun dapat juga digosok hingga halus dan mengkilap. Jenis lain dari pelapisan nikel adalah pelapisan yang berwarna hitam. Warna hitam inipun tampak menarik dan digunakan biasanya untuk melapis laras senapan dan lainnya.

PELAPISAN KHROM
Selain nikel, maka pelapisan khrom banyak dilaksanakan untuk mendapatkan permukaan yang menarik. Karena sifat khas khrom yang sangat tahan karat maka pelapisan khrom mempunyai kelebihaan tersendiri bila dibandingkan dengan pelapisan lainnya. Selain sifat dekoratif dan atraktif dari pelapisan khrom, keuntungan lain dari pelapisan khrom adalah dapat dicapainya hasil pelapisan yang keras. Sumber logam khrom didapat dari asam khrom, tapi dalam perdagangan yang tersedia adalah khrom oksida (Cr O3) sehingga terdapatnya asam khrom adalah pada waktu khrom oksida bercampur dengan air

Metode Penelitian

Banyak sekali sebagian kita yang mengaku-ngaku dari lembaga riset padahal faktanya metode yang dijelaskan aspal (asli tapi palsu) bahkan ada seorang teman saya yg mengaku dari lembaga penelitian tapi dia sendiri gak tau bagaimana prosedur penelitian yang dia kerjakan di lembaganya sendiri. akhirnya data-data dilapangan yang di ambil malah jauh dari harapan dan terkesan dibuat-buat.

Kawan-kawan, semua metode peneltian ini sangat penting mengingat ini akan menjadi alat evaluasi dari kebijakan yang akan diambli baik oleh pemerintah, lembaga ataupun sekolah, untuk itu diperlukan langkah2 yang filosofis dan teknis dilapangan. Berikut ini ada beberapa seputar pertanyaan dalam kaitannya metodologi penelitian yang mungkin bisa menjadi tambahan bagi kita semua. Silakan menikmati…

1. Apa yang dimaksud dengan metode ilmiah dan bagaimana penerapannya dalam penelitian?

Metode ilmiah adalah suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama. Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab

2. Bagaimana langkah di dalam sistematika penelitian?

1. Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah Penelitian

2. Penelaahan Kepustakaan

3. Perumusan Hipotesis

4. Identifikasi, Klasifikasi dan Pendefinisian Variabel

5. Pemilihan atau Pengembangan Alat Pengambil Data

6. Penyusunan rancangan penelitian

7. Penentuan sampel

8. Pengumpulan data

9. Pengolahan dan analisis data

10. Interpretasi hasil analisis

11. Penyusunan laporan

3. Jelaskan paradigma kuantitatif dan kualitatif berdasarkan atas pendekatan ontologis, Epistemologis, axiologis, retorik, dan metodologis!

Istilah kuantitatif dan kualitatif menurut Borg and Gall (1989) dalam Sugiyono (2009) adalah sebagai berikut :

Many labels have been used to distinguish between tradisional research methods and these new methods : positivistic versus postpositivistic reseach; scientivic versus artistic research; confirmatory versus discovery-oriented research; quantitative versus interpretative research; quantitative versus qualitative research. The quantitative- qualitative distinction seem most widely used. Both quantitative researchers and qualitative researchers go about inquiri in different ways.

Metode kuantitatif dan kualitatif sering dipasangkan dengan nama metode tradisional dan metode baru; metode positivistik dan postposivistik; metode scientific dan metode artistik; metode konfirmasi dan temuan; serta kuantitatif dan interpretatif

Ontologis: Paradigma penelitian kuantitatif dan kualitatif :

a. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan intrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

b. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti kondisi obyek alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.

Berdasarkan pengetian tersebut maka secara ontologis hal-hal yang dikaji dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif berbeda. Perbedaan itu adalah sebagai berikut :
KUANTITATIF KUALITATIF
A. Jenis penelitian terapan

B. Hasil penelitian untuk mengukur :

1. Hubungan simetris (korelasional)

2. Hubungan Kausal (ex post facto, eksperimen)
A. Jenis penelitian murni

B. Hasil penelitian untuk :

1. Menemukan budaya (etnografi)

2. Menemukan teori baru (Grounded research)

3. Pengembangan i

PARADIGMA PENELITIAN KUNTITATIF DAN KUALITATIF
KUANTITATIF KUALITATIF
1. Positivistik (fenomena objektif)

2. Deduktif hipotesis

3. Partilaristik (terpisah)

4. Objektif

5. Berorientasi kepada hasil

6. Menggunkan pandangan ilmu

pengetahuan penelitian.
1. Fenomenologik/postpositivistik

2. Induktif hipotesis

3. Holistik (menyeluruh)

4. Subyektif (peneliti sebagai instrumen)

5. Berorientasi kepada proses

6. Menggunakan pandangan ilmu sosial/

Antropological

Sugiyono (2009) mengemukakan bahwa aksioma penelitian kuantitaif dan kualitatif meliputi aksioma tentang, hubungan peneliti dengan yang diteliti, hubungan variabel, kemungkinan generalisasi, dan peranan nilai, seperti ditunjukkan dalam tabel berikut :

PERBEDAAN AKSIOMA PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF
Aksioma Dasar Penelitian Kuantitatif Penelitian Kualitatif
Sifat realitas Tunggal, dapat diklasifikasi-kan, konkrit, teramati, terukur Ganda, holistik, dinamis, hasil kontruksi dan pemahaman
Hubungan peneliti dengan yang diteliti Peneliti bersifat independen, supaya terbangun obyektivitas Peneliti interaktif dengan sumber data supaya memperoleh makna

(human instrumens, participant observation, in depth interview)
Hubungan Variabel Sebab-akibat (kausal)




X Y
Timbal balik/interaktif



X Y

Z
Kemungkinan generalisasi Cenderung membuat generalisasi Transferability (hanya mungkin dalam ikatan konteks dan waktu)
Peranan nilai Cenderung bebas nilai Terikat nilai-nilai yang dibawa peneliti dan sumber data

Metodologis: Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif

Karakteristik Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif adalah sebagai berikut.
Penelitian Kuantitatif Penelitian Kualitatif
A. Desain

a. Spesifik, jelas, rinci

b. Ditentukan secara mantap sejak awal

c. Menjadi pegangan langkah demi langkah
A. Desain

a. Umum

b. Fleksibel

c. Berkembang dan muncul dalam proses penelitian
B. Tujuan

a. Menunjukkan hubungan antarvariabel

b. Menguji teori

Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif
B. Tujuan

a. Menentukan pola hubungan yang bersifat interaktif

b. Menemukan teori

c. Menggambarkan realitas yang kompleks

d. Memperoleh pemahaman makna
C. Teknik Pengumpulan Data

a. Kuesioner

b. Observasi dan wawancara terstuktur
C. Tenik Pengumpulan Data

a. Participant observation

b. In dept interview

c. Dokumentasi

d. Trianggulasi (gabungan)
D. Instrumen Penelitian

a. Test, angket, wawancara terstruktur

b. Instrumen yang telah terstandar
D. Instrumen Penelitian

a. Peneliti sebagai Instrumen (human instrumen)

b. Buku catatan, tape recorder, camera, handycam dan lain-lain
E. Data

a. Kuantitatif

b. Hasil pengukuran variabel yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrumen
E. Data

a. Deskriptif kualitatif

b. Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan dan tindakan responden, dokumen dan lain-lain
F. Sampel

a. Besar (minimal 30)

b. Representatif

c. sedapat mungkin random

d. Ditentukan sejak awal
F. Sampel

a. Kecil

b. Tidak representatif

c. Purposive, Snowbaal

d. Berkembang selama proses penelitian
G. Analisis

a. Setelah selesai pengumpulan data

b. Deduktif

c. Menggunakan statistik untuk menguji hipotesis
G. Analisis

a. Terus menerus sejak awal hingga akhir penelitian

b. Induktif

c. Mencari pola, model, thema, teori
H. Hubungan dengan Responden

a. Dibuat berjarak, bahkan sering tanpa kontak supaya obyektif

b. Kedudukan peneliti lebih tinggi dari responden

c. Jangka pendek sampai hipotesis dapat dibuktikan
H. Hubungan dengan Responden

a. Empati, akrap supaya memperoleh pemahaman yang mendalam

b. Kedudukan sama bahkan sebagai guru atau konsultan

c. Jangka lama, sampai datanya jenuh, dapat ditemukan hipotesis atau teori
I. Usulan Desain

a. Luas dan rinci

b. Literatur yang berhubungan dengan masalah dan variabel yang diteliti

c. Prosedur yang spesifik dan rinci langkah-langkahnya.

d. Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas

e. Hipotesis dirumuskan dengan jelas

f. Ditulis secara rinci dan jelas sebelum terjun ke lapangan
I. Usulan Desain

a. Singkat, umum bersifat sementara

b. Literatur yang digunakan bersifat sementara, tidak menjadi pegangan utama.

c. Prosedur bersifat umum, seperti akan merencanakan tour/piknik

d. Masalah bersifat sementara dan akan ditemukan setelah studi pendahuluan

e. Tidak dirumuskan hipotesis, karena justru akan menemukan hipotesis

f. Fokus penelitian ditetapkan setelah diperoleh data awal dari lapangan
J. Kapan penelitian dianggap selesai?

Setelah semua kegitan yang direnca-nakan dapat diselesaikan
J. Kapan penelitian dianggap selesai?

Setelah tidak ada data yang dianggap baru/jenuh
K. Kepercayaan terhadap hasil Penelitian

Pengujian validitas dan realiabilitas instrumen
K. Kepercayaan terhadap hasil Penelitian

Pengujian kredibilitas, depenabilitas, proses dan hasil penelitian

Epistemologis : Proses penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

a. Proses Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif pada prinsipnya adalah untuk menjawab masalah. Penelitian ini bertolak dari studi pendahuluan terhadap obyek yang diteliti (preliminary study) untuk mendapatkan betul-betul masalah. Masalah harus digali melalui studi pendahuluan, melalui fakta-fakta empiris. Supaya peneliti dapat menggali masalah dengan baik, maka peneliti harus menguasai teori melalui membaca referensi. Selanjutnya masalah diidentifikasi dan dirumuskan secara spesifik. Rumusan masalah pada umumnya dibuat dalam bentuk kalimat tanya.

Untuk menjawab rumusan masalah yang sifatnya sementara (berhipotesis), maka peneliti dapat membaca referensi teoritis yang relevan dengan masalah dan berfikir. Penemuan penelitian sebelumnya yang relevan juga dapat digunakan sebagai bahan untuk memberikan jawaban sementara terhadap rumusan masalah (hipotesis).

Untuk menguji hipotesis tersebut peneliti dapat memilih metode/strategi/pendekatan/ desain penelitian yang sesuai. Pertimbangan ideal untuk memilih metode itu adalah tingkat ketelitian data yang diharapkan dan konsisten yang dikehendaki. Sedangkan pertimbangan praktis adalah tersedianya dana, waktu, dan kemudahan yang lain. Misalnya metode survey, ex post facto, eksperimen, evaluasi dan lain-lain.

Setelah metode penelitian yang sesuai dipilih, maka peneliti dapat menyusun instrumen penelitian. Instrumen ini digunakan sebagai alat pengumpul data yang dapat berbentuk tes, angket/kuesioner, wawancara terstruktur atau observasi. Instrumen ini harus diuji dahulu validitas dan reliabilitasnya sebelum digunakan.

Pengumpulan data dilakukan pada obyek tertentu baik berbentuk populasi maupun sampel. Sampel harus representatif untuk menyimpulkan hasil penelitian dengan baik. Setelah data terkumpul, selanjutnya melakukan analisis untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang diajukan dengan teknik statistik tertentu. Berdasarkan analisis ini apakah hipotesis ditolak atau diterima atau apakah penemuan itu sesuai dengan hipotesis yang diajukan atau tidak.

Kesimpulan adalah langkah terakhir dari tahap penelitian yang berupa jawaban terhadap rumusan masalah. Proses penelitian kuantitatif tampak jelas dari langkah-langkah merumuskan masalah, berteori, berhipotesis, mengumpulkan data, analisis data dan membuat kesimpulan dan saran. Sedangkan penggunaan konsep dan teori yang relevan serta pengkajian terhadap hasil-hasil penelitian yang mendahului guna untuk menyusun hipotesis merupakan aspek logika (logiko-hypothetico). Pemilihan metode penelitian, menyusun instrumen, mengumpulkan data dan analisisnya adalah aspek metodologi.

b. Proses Penelitian Kualitatif

Tahap pertama, peneliti kualitatif yaitu memasuki obyek/lapangan. Pada waktu memasuki obyek, peneliti tentu merasa asing terhadap obyek tersebut. Tahap ini disebut tahap orientasi atau deskripsi, dengan grant tour question. Peneliti mulai mendeskripsikan apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan ditanyakan.

Tahap kedua, yaitu tahap reduksi/fokus. Tahap ini peneliti mereduksi segala informasi yang diperoleh pada tahap pertama untuk memfokuskan pada masalah tertentu. Peneliti mulai menyortir data dengan cara memilih data yang menarik, penting, berguna, dan baru. Data-data tersebut dikelompokkan menjadi berbagai kategori yang ditetapkan sebagai fokus penelitian.

Tahap ketiga, yaitu tahap selection. Peneliti menguraikan fokus yang telah ditetapkan menjadi lebih rinci. Peneliti juga melakukan analisis yang mendalam terhadap data dan informasi yang diperoleh, maka peneliti dapat menemukan thema dengan cara mengkonstruksikan data menjadi suatu bangunan pengetahuan, hipotesis atau ilmu baru.

Tahap keempat, peneliti harus mampu menghasilkan informasi-informasi yang bermakna, bahkan hipotesis atau ilmu baru yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah dan meningkatkan taraf hidup manusia. Proses memperoleh data atau informasi setiap tahapan (deskripsi, reduksi, seleksi) tersebut dilakukan secara sirkuler, berulang-ulang dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber. Setelah peneliti memasuki obyek peneltian atau sering disebut situasi sosial ( terdiri atas tempat, aktor/pelaku/orang-orang, dan aktivitas) peneliti berfikir apa yang akan ditanyakan (1). Setelah menemukan pertanyaan selanjutnya peneliti bertanya kepada orang-orang yang dijumpai di tempat tersebut (2). Jawaban yang diperoleh dianalisis apakah jawabannya betul atau tidak (3). Jika jawaban atas pertanyaan dirasa betul, maka dibuatkan kesimpulan (4).

Tahap kelima, yaitu peneliti mencandra kembali kesimpulan yang dibuat. Apakah kesimpulan tersebut kredibel atau tidak. Untuk memastikan kesimpulan tersebut, peneliti masuk lapangan lagi dan mengulang pertanyaan dengan cara dan sumber yang berbeda, tetapi dengan tujuan sama. Kalau kesimpulan telah diyakini memiliki kredibelitas yang tinggi, maka pengumpulan data dinyatakan selesai.

Axiologis : Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

a. Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif digunakan :

1) Bila masalah yang merupakan titik tolak penelitian sudah jelas. Tampak adanya penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi, antara aturan dan pelaksanaan, antara teori dan praktik. Dalam proposal masalah ini harus ditunjukkan dengan data baik data hasil penelitian sendiri atau dokumentasi.

2) Bila peneliti inginmendapatkan informasi yang luas dari suatu populasi. Jika populasi terlalu luas penelitian dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut.

3) Bila ingin mengetahui pengaruh perlakukan/treatment tertentu terhadap yang lain. Untuk kepentingan ini peneliti dapat menggunakan metode eksperimen.

4) Bila peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian. Hipotesis ini dapat berbentuk hipotesis deskriptif, komparatif, dan asosiatif.

5) Bila peneliti ingin mendapatkan data yang akurat, berdasarkan fenomena yang empiris dan dapat dikukur.

6) Bila peneliti ingin menguji terhadap adanya keragu-raguan tentang validitas pengetahuan, teori, dan produk tertentu.

b. Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif digunakan untuk kepentingan yang berbeda bila dibandingkan dengan penelitian kuantitatif. Penelititian kualitatif kapan digunakan, dikemukakan sebagai berikut.

1) Bila masalah penelitian belum jelas, masih kabur, bahkan masih gelap. Kondisi semacam ini cocok dilakukan dengan penelitian kualitatif, karena peneliti kualitatif akan langsung ke obyek melakukan penjelajahan dengan grand tour question, sehingga masalah akan dapat ditemukan dengan jelas. Peneliti akan melakukan ekplorasi terhadap suatu obyek.

2) Untuk memahami makna dibalik data yang tampak. Gejala sosial sering tidak bisa difahami berdasarkan ucapan atau tindakan seseorang. Setiap ucapan dan tindakan seseorang sering mempunyai makna tertentu. Data yang cocok untuk mencari makna dari setiap perbuatan tersebut hanya cocok diteliti dengan metode kualitatif, dengan teknik wawancara yang mendalam dan obserbasi berperan serta, dan dokumentasi.

3) Untuk memahami interaksi sosial. Interaksi sosial yang kompleks hanya dapat diurai dengan penelitian kualitatif.

4) Untuk memahami perasaan orang. Perasaan orang sulit dimengerti kalau tidak diteliti dengan metode kualitatif.

5) Untuk mengembangkan teori. Penelitian kualitatif paling tepat digunakan untuk mengembangkan teori yang dibangun melalui data yang diperoleh di lapangan (grounded research).

6) Untuk memastikan kebenaran data. Data sosial sering sulit dipastikan kebenarannya. Penelitian kulitatif dengan teknik pengumpulan data secara trianggulasi/gabungan, maka kepastian data akan lebih terjamin.

7) Untuk meneliti sejarah perkembangan. Sejarah perkembangan kehidupan seorang tokoh masyarakat akan dapat dilacak dengan penelitian kualitatif. Dengan menggunakan data dokumentasi dan wawancara mendalam kepada pelaku yang dipandang tahu, maka dapat ditemukan sejarah perkembangan kehidupan seseorang.

4. Apakah yang dimaksud dengan masalah penelitian ? Apakah ada perbedaan antara masalah penelitian dan masalah yang bukan penelitian ?

Masalah penelitian adalah “masalah yang pemecahannya memerlukan penelitian”

Syarat2 masalah penelitian:

1. Fisibel dari segi dana, waktu, alat, keahlian peneliti, dan subjek penelitian yg dibutuhkan
2. Interesting bagi penelitinya
3. Novel, yaitu menguatkan, membantah, melengkapi dgn penelitian sebelumnya
4. Etik penelitian tidak dilanggar
5. Relevan bagi perkembangan ilmu saat itu

Bedanya jika masalah yang bukan penelitian tidak memerlukan kajian mendalam dan dapat diselesaikan dalam waktu relative singkat

5. Jelaskan sumber-sumber yang dapat kita gunakan untuk memperoleh masalah penelitian dan berikan contoh satu rumusan masalah penelitian kuantitatif dan satu rumusan penelitian kualitatif!

Menurut Suharsimi Arikunto (1996:25), sumber masalah dapat diperoleh dari berbagai macam arah:

1. kehidupan sehari-hari,
2. dari membaca buku,
3. dapat diberi dari orang lain.
4. Akan tetapi menurutnya yang paling baik adalah datang dari dirinya sendiri sehingga ada dorongan kebutuhan untuk memperoleh jawaban.

Sugiyono (1994:35) menambahkan bahwa sumber masalah bisa diambil dari

1) adanya penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan;

2) penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan;

3) dari pengaduan; dan

4) dari kondisi yang muncul karena adanya kompetisi.

(Suryabrata,(1983:61) Masalah penelitian bisa juga diambil dari sumber lain yaitu:

1) bacaan terutama bacaan yang berisi laporan penelitian;

2) seminar, diskusi, dan lain-lain pertemuan ilmiah;

3) pernyataan pemegang otoritas;

4) pengamatan sepintas;

5) pengalaman pribadi; dan kadang kala

6) perasaan intuitif

* Contoh satu rumusan masalah penelitian kuantitatif dan satu rumusan masalah penelitian kualitatif.

a. Satu rumusan masalah penelitian kuantitatif

- Contoh rumusan masalah deskriptif

Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata-rata per hari siswa SMPN 272 Jakarta?

- Contoh rumusan masalah komparatif

Adakah perbedaan, motivasi belajar dan hasil belajar bahasa Indonesia antara murid yang berasal dari keluarga Guru, Pegawai Swasta dan Pedagang?

- Contoh rumusan masalah asosiatif

1) Hubungan Simetris

Adakah hubungan motivasi belajar dan prestasi belajar bahasa Indonesia siswa kelas IX SMPN 272 Jakarta?

2) Hubungan Kausal

Adakah pengaruh penguasaan kosa kata terhadap kemampuan mengapresiasi novel remaja siswa kelas VIII SMP N 272 Jakarta?

b. Satu rumusan masalah penelitian kualitatif

Bagaimanakah perkembangan kemampuan kerja antara lulusan SMA dan SMK?

6. Jelaskan pengertian variabel dan jenis-jenisnya dengan contoh dalam penelitian bahasa dan sastra!

a. Pengertian Variabel

Kerlinger (2000) berpendapat bahwa variabel adalah simbol atau lambang yang di dalamnya diletakkan bilangan atau nilai. Sevilla (1997) mendefinisikan variabel sebagai suatu karakteristik yang memiliki dua atau lebih nilai atau sifat yang berdiri sendiri.

Variabel penelitian diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan atau penelitian. Variabel penelitian dinyatakan sebagai faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti.

b. Macam Variabel

variabel kuantitatif terdiri atas dua kelompok, yaitu :

1. Variabel diskrit (discrete), yaitu variabel kuantitatif yang tidak memiliki nilai pecahan. Misalnya : Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa UNJ angkatan 2009/2010 (60 orang, tidak 59,9 orang). Variabel diskrit merupakan hasil perhitungan.

2. Variabel bersambung (continous), yaitu variabel kuantitatif yang mempunyai angka pecahan. Misalnya: Jarak tempat tinggal dengan sekolah adalah 7 km. Sesungguhnya jarak tersebut tidak tepat 7 km, tetapi berada di antara 7,9 km hingga 8,1 km. Variabel bersambungan merupakan hasil pengukuran.

c. Jenis-Jenis Variabel

1) Variabel Independen (variabel bebas) : variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, antecendent. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).

2) Variabel Dependen (variabel terikat) : variabel ini sering disebut sebagai variabel output, kreteria, konsekuen. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.

3) Variaber Moderator adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Variabel disebut juga variabel independen kedua.

4) Variabel Intervening (variabel antara) adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur.

5) Variabel Kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel independen dan variabel dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti.

Contoh Jenis-Jenis Variabel :

Judul : Pengaruh penguasaan kosa kata dan frekuensi membaca terhadap kemampuan mengapresiasi novel remaja siswa SMPN 272 Jakarta.

* Variabel dependen (terikat) : kemampuan mengapresiasi
* Variabel independen (bebas) : penguasaan kosa kata
* Variabel moderator (atribut) : frekuensi membaca
* Variabel intervening (antara) :
* Variabel kontrol :

7. Jelaskan batasan pengertian populasi, populasi target, populasi terjangkau, kerangka sampling, dan sampel!

a. Pengertian Populasi

populasi adalah keseluruhan subjek/objek psikologis yang dibatasi oleh kreteria tertentu untuk dikenai generalisasi penelitian

b. Pengertian Populasi Target

Populasi target adalah sekelompok subjek/objek (manusia, binatang, peristiwa atau benda) yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti sebagai sasaran penelitian sehingga menghasilkan suatu kesimpulan hasil penelitian. Populasi target adalah populasi yang menjadi sasaran penelitian yang nantinya akan menjadi cakupan kesimpulan.

c. Populasi Terjangkau

Populasi itu disebut pupulasi terjangkau apabila populasi yang terdiri atas sekelompok subjek/objek yang dijadikan sasaran penelitian itu terdata. Misalnya siswa kelas IX SMP N FAJAR tahun pelajaran 2009/2010.

d. Kerangka Sampling

Sampling adalah sebuah prosedur atau cara untuk memilih bagian unit yang ada dalam suatu populasi.

e. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah subyek/objek dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut, yang menjadi pusat atau fokus pengamatan dalam penelitian.

8. Jelaskan perbedaan antara penarikan sampel random (probabilitas) dan nonrandom (nonprobabiltas)!

1. Sampel Probabilitas
Sampel probabilitas adalah himpunan unit / elemen observasi yang dipilih sedemikian rupa sehingga unit/elemen dalam populasi tersebut memiliki peluang yang sama untuk terpilih.
Jenis – jenis sampel probabilitas
a. sampel acak sederhana
b. sampel acak berlapis
c. sampel acak klaster
d. sampel acak dua tahap

2. Sampel Nonprobabilitas
Sampel nonprobabilitas adalah angggota populasi tidak diberi kesempatan / peluang yang sama untuk dijadikan sampel.
Jenis – jenis sampel nonprobabilitas :
Sampel sistematis
Sampel purposif
Sampel kuota

9. Bagaimana langkah-langkah di dalam penyusunan instrumen penelitian?

Menurut Hadjar, yaitu:

1). Mendefinisikan variabel;

2). Menjabarkan variabel ke dalam indikator yang lebih rinci;

3). Menyusun butir-butir;

4). Melakukan uji coba;

5). Menganalisis kesahihan (validity) dan keterandalan (reliability).

Suryabrata untuk alat ukur khususnya atribut non-kognitif adalah:

1). Pengembangan spesifikasi alat ukur;

2). Penulisan pernyataan atau pertanyaan;

3). Penelaahan pernyataan atau pertanyaan;

4). Perakitan instrumen (untuk keperluan uji-coba);

5). Uji-coba;

6). Analisis hasil uji-coba;

7). Seleksi dan perakitan instrumen;

8). Administrasi instrumen;

9). Penyusunan skala dan norma

1. Berikan sebuah contoh judul penelitian korelasional dalam pengajaran bahasa dan sastra (dengan dua variabel bebas dan satu variabel terikat) dan rumusan masalahnya!

1. Berikan sebuah contoh judul penelitian eksperimen dalam pengajaran bahasa dan sastra (dengan dua variabel bebas dan satu variabel terikat) dan rumuskan masalahnya!

semoga berguna

Kamis, 19 Agustus 2010

Pencak Silat sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia berkembang sejalan dengan sejarah masyarakat Indonesia. Dengan aneka ragam situasi geografis dan etnologis serta perkembangan zaman yang dialami oleh bangsa Indonesia, Pencak Silat dibentuk oleh situasi dan kondisinya.
Kini Pencak Silat kita kenal dengan wujud dan corak yang beraneka ragam, namun mempunyai aspek-aspek yang sama. Pencak Silat merupakan unsur-unsur kepribadian bangsa Indonesia yang dimiliki dari hasil budi daya yang turun temurun. Sampai saat ini belum ada naskah atau himmpunan mengenai sejarah pembelaan diri bangsa Indonesia yang disusun secara alamiah dan dapat dipertanggung jawabkan serta menjadi sumber bagi pengembangan yang lebih teratur.
Hanya secara turun temurun dan bersifat pribadi atau kelompok latar belakang dan sejarah pembelaan diri inti dituturkan. Sifat-sifat ketertutupan karena dibentuk oleh zaman penjajahan di masa lalu merupakan hambatan pengembangan di mana kini kita yang menuntut keterbukaan dan pemassalan yang lebih luas. Sejarah perkembangan Pencak Silat secara selintas dapat dibagi dalam kurun waktu :

a. Perkembangan sebelum zaman penjajahan Belanda
b. Perkembangan pada zaman penjajahan Belanda
c. Perkembangan pada zaman penjajahan Jepang
d. Perkembangan pada zaman kemerdekaan

a. Perkembangan pada zaman sebelum penjajahan Belanda
Nenek moyang kita telah mempunyai peradaban yang tinggi, sehingga dapat berkembang menjadi rumpun bangsa yang maju. Daerah-daerah dan pulau-pulau yang dihuni berkembnag menjadi masyarakat dengan tata pemerintahan dan kehidupan yang teratur. Tata pembelaan diri di zaman tersebut yang terutama didasarkan kepada kemampuan pribadi yang tinggi, merupakan dasar dari sistem pembelaan diri, baik dalam menghadapi perjuangan hidup maupun dalam pembelaan berkelompok.
Para ahli pembelaan diri dan pendekar mendapat tempat yang tinggi di masyarakat. Begitu pula para empu yang membuat senjata pribadi yagn ampuh seperti keris, tombak dan senjata khusus. Pasukan yang kuat di zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit serta kerajaan lainnya di masa itu terdiri dari prajurit-prajurit yang mempunyai keterampilan pembelaan diri individual yang tinggi. Pemukupan jiwa keprajuritan dan kesatriaan selalu diberikan untuk mencapai keunggulan dalam ilmu pembelaan diri. Untuk menjadi prajurit atau pendekar diperulan syarat-syarat dan latihan yang mendalam di bawah bimbingan seorang guru. Pada masa perkembangan agama Islam ilmu pembelaan diri dipupuk bersama ajaran kerohanian. Sehingga basis-basis agama Islam terkenal dengan ketinggian ilmu bela dirinya. Jelaslah, bahwa sejak zaman sebelum penjajahan Belanda kita telah mempunyai sistem pembelaan diri yang sesuai dengan sifat dan pembawaan bangsa Indonesia.
b. Perkembangan Pencak Silat pada zaman penjajahan Belanda
Suatu pemerintahan asing yang berkuasa di suatu negeri jarang sekali memberi perhatian kepada pandangan hidup bangsa yang diperintah. Pemerintah Belandan tidak memberi kesempatan perkembangan Pencak Silat atau pembelaan diri Nasional, karena dipandang berbahaya terhadap kelangsungan penjajahannya. Larangan berlatih bela diri diadakan bahkan larangan untuk berkumpul dan berkelompok. Sehingga perkembangan kehidupan Pencak Silat atau pembelaan diri bangsa Indonesia yang dulu berakar kuat menjadi kehilangan pijakan kehidupannya. Hanya dengan sembunyi-sembunyi dan oleh kelompok-kelompok kecil Pencak Silat dipertahankan. Kesempatan-kesempatan yang dijinkan hanyalah berupa pengembangan seni atau kesenian semata-mata masih digunakan di beberapa daerah, yang menjurus pada suatu pertunjukan atau upacara saja. Hakekat jiwa dan semangat pembelaan diri tidak sepenuhnya dapat berkembang. Pengaruh dari penekanan di zaman penjajahan Belanda ini banyak mewarnai perkembangan Pencak Silat untuk masa sesudahnya.
c. Perkembangan Pencak Silat pada pendudukan Jepang
Politik Jepang terhadap bangsa yang diduduki berlainan dengan politik Belanda. Terhadap Pencak Silat sebagai ilmu Nasional didorong dan dikembangkan untuk kepentingan Jepang sendiri, dengan mengobarkan semangat pertahanan menghadapi sekutu. Di mana-mana atas anjuran Shimitsu diadakan pemusatan tenaga aliran Pencak Silat. Di seluruh Jawa serentak didirkan gerakan Pencak Silat yang diatur oleh Pemerintah. Di Jakarta pada waktu itu telah diciptakan oleh para pembina Pencak Silat suatu olarhaga berdasarkan Pencak Silat, yang diusulkan untuk dipakai sebagai gerakan olahraga pada tiap-tiap pagi di sekolah-sekolah. Usul itu ditolak oleh Shimitsu karena khawatir akan mendesak Taysho, Jepang. Sekalipun Jepang memberikan kesempatan kepada kita untuk menghidupkan unsur-unsur warisan kebesaran bangsa kita, tujuannya adalah untuk mempergunakan semangat yang diduga akan berkobar lagi demi kepentingan Jepang sendiri bukan untuk kepentingan Nasional kita.
Namun kita akui, ada juga keuntungan yang kita peroleh dari zaman itu. Kita mulai insaf lagi akan keharusan mengembalikan ilmu Pencak Silat pada tempat yang semula didudukinya dalam masyarakat kita.
d. Perkembangan Pencak Silat pada Zaman Kemerdekaan
Walaupun di masa penjajahan Belanda Pencak Silat tidak diberikan tempat untuk berkembang, tetapi masih banyak para pemuda yang mempelajari dan mendalami melalui guru-guru Pencak Silat, atau secara turun-temurun di lingkungan keluarga. Jiwa dan semangat kebangkitan nasional semenjak Budi Utomo didirikan mencari unsur-unsur warisan budaya yang dapat dikembangkan sebagai identitas Nasional. Melalui Panitia Persiapan Persatuan Pencak Silat Indonesia maka pada tanggal 18 Mei 1948 di Surakarta terbentuklah IPSI yang diketuai oleh Mr. Wongsonegoro.
Program utama disamping mempersatukan aliran-aliran dan kalangan Pencak Silat di seluruh Indonesia, IPSI mengajukan program kepada Pemerintah untuk memasukan pelajaran Pencak Silat di sekolah-sekolah.
Usaha yang telah dirintis pada periode permulaan kepengurusan di tahun lima puluhan, yang kemudian kurang mendapat perhatian, mulai dirintis dengan diadakannya suatu Seminar Pencak Silat oleh Pemerintah pada tahun 1973 di Tugu, Bogor. Dalam Seminar ini pulalah dilakukan pengukuhan istilah bagi seni pembelaan diri bagnsa Indonesia dengan nama “Pencak Silat” yang merupakan kata majemuk. Di masa lalu tidak semua daerah di Indonesia menggunakan istilah Pencak Silat. Di beberapa daerah di jawa lazimnya digunakan nama Pencak sedangkan di Sumatera orang menyebut Silat. Sedang kata pencak sendiri dapat mempunyai arti khusus begitu juga dengan kata silat.
Pencak, dapat mempunyai pengertian gerak dasar bela diri, yang terikat pada peraturan dan digunakan dalam belajar, latihan dan pertunjukan.
Silat, mempunyai pengertian gerak bela diri yang sempurna, yang bersumber pada kerohanian yang suci murni, guna keselamatan diri atau kesejahteraan bersama, menghindarkan diri/ manusia dari bela diri atau bencana. Dewasa ini istilah pencak silat mengandung unsur-unsur olahraga, seni, bela diri dan kebatinan. Definisi pencak silat selengkapnya yang pernah dibuat PB. IPSI bersama BAKIN tahun 1975 adalah sebagai berikut :

“Pencak Silat adalah hasil budaya manusia Indonesia untuk membela/mempertahankan eksistensi (kemandirian) dan integritasnya (manunggalnya) terhadap lingkungan hidup/alam sekitarnya untuk mencapai keselarasan hidup guna meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.



Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian



Umumnya Pencak Silat mengajarkan pengenalan diri pribadi sebagai insan atau mahluk hidup yang pecaya adanya kekuasaan yang lebih tinggi yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Biasanya, Pencak Silat sebagai ajaran kerohanian/kebatinan diberikan kepada siswa yang telah lanjut dalam menuntut ilmu Pencak Silatnya. Sasarannya adalah untuk meningkatkan budi pekerti atau keluhuran budi siswa. Sehingga pada akhirnya Pencak Silat mempunyai tujuan untuk mewujudkan keselarasan/ keseimbangan/keserasian/alam sekitar untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, guna mengisi Pembangunan Nasional Indonesia dalam mewujudkan manusia Indonesia seutuhnya yang Pancasilais.



Pencak Silat sebagai seni



Ciri khusus pada Pencak Silat adalah bagian kesenian yang di daerah-daerah tertentu terdapat tabuh iringan musik yang khas. Pada jalur kesenian ini terdapat kaidah-kaidah gerak dan irama yang merupakan suatu pendalaman khusus (skill). Pencak Silat sebagai seni harus menuruti ketentuan-ketentuan, keselarasan, keseimbangan, keserasian antara wirama, wirasa dan wiraga.



Di beberapa daerah di Indonesia Pencak Silat ditampilkan hampir semata-mata sebagai seni tari, yang sama sekali tidak mirip sebagai olahraga maupun bela diri. Misalnya tari serampang dua belas di Sumatera Utara, tari randai di Sumatera Barat dan tari Ketuk Tilu di Jawa Barat. Para penari tersebut dapat memperagakan tari itu sebagai gerak bela diri yang efektif dan efisien untuk menjamin keamanan pribadi.



Pencak Silat sebagai olahraga umum



Walaupun unsur-unsur serta aspek-aspeknya yang terdapat dalam Pencak Silat tidak dapat dipisah-pisahkan, tetapi pembinaan pada jalur-jalur masing-masing dapat dilakukan. Di tinjau dari segi olahraga kiranya Pencak Silat mempunyai unsur yang dalam batasan tertentu sesuai dengan tujuan gerak dan usaha dapat memenuhi fungsi jasmani dan rohani. Gerakan Pencak Silat dapat dilakukan oleh laki-laki atau wanita, anak-anak maupun orang tua/dewasa, secara perorangan/kelompok.



Usaha-usaha untuk mengembangkan unsur-unsur olahraga yang terdapat pada Pencak Silat sebagai olahraga umum dibagi dalam intensitasnya menjadi



a. Olahraga rekreasi
b. Olahraga prestasi
c. Olahraga massal



Pada seminar Pencak Silat di Tugu, Bogor tahun 1973, Pemerintah bersama para pembina olahraga dan Pencak Silat telah membahas dan menyimpulkan makalah-makalah :



1. Penetapan istilah yang dipergunakan untuk Pencak Silat
2. Pemasukan Pencak Silat sebagai kurikulum pada lembaga-lembaga pendidikan
3. Metode mengajar Pencak Silat di sekolah
4. Pengadaan tenaga pembina/guru Pencak Silat untuk sekolah-sekolah
5. Pembinaan organisasi guru-guru Pencak Silat dan kegiatan Pencak Silat di lingkungan sekolah
6. Menanamkan dan menggalang kegemaran serta memassalkan Pencak Silat di kalangan pelajar/mahasiswa.



Sebagai tindak lanjut dari pemikiran-pemikiran tersebut dan atas anjuran Presiden Soeharto, program olahraga massal yang bersifat penyegaran jasmani digarap terlebih dahulu, yang telah menghasilkan program Senam Pagi Indonesia (SPI).



Pencak Silat sebagai olahraga prestasi (olahraga pertandingan)



Pengembangan Pencak Silat sebagai olahraga & pertandingan (Championships) telah dirintis sejak tahun 1969, dengan melalui percobaan-percobaan pertandingan di daerah-daerah dan di tingkat pusat. Pada PON VIII tahun 1973 di Jakarta telah dipertandingkan untuk pertama kalinya yang sekaligus merupakan Kejuaraan tingkat Nasional yang pertama pula. Masalah yang harus dihadapi adalah banyaknya aliran serta adanya unsur-unsur yang bukan olahraga yang sudah begitu meresapnya di kalangan Pencak Silat. Dengan kesadaran para pendekar dan pembina Pencak Silat serta usaha yang terus menerus maka sekarang ini program pertandingan olahraga merupakan bagian yang penting dalam pembinaan Pencak Silat pada umumnya. Sementara ini Pencak Silat telah disebarluaskan di negara-negara Belanda, Belgia, Luxemburg, Perancis, Inggris, Denmark, Jerman Barat, Suriname, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru.



Program pembinaan Pencak Silat



Pencak Silat sebagai budaya Nasional bangsa Indonesia mempunyai banyak ragam khas maisng-masing daerah, jumlah perguruan/aliran di segenap penjuru tanah air ini diperkirakan sebanyak 820 perguruan/aliran.



Oleh karena itu dirasakan perlu adanya pembinaan yang sistimatis untuk melestarikan warisan nenek moyang kita. Terlebih-lebih setelah Kungfu masuk IPSI, atas anjuran Pemerintah berdasarkan pertimbangan lebih baik Kungfu berada di dalam IPSI sehingga lebih mudah dalam mengadakan pengawasan dan pengendalian terhadapnya, sekaligus menasionalisasikan.



Standarisasi yang telah dirintis pembuatannya, hanyalah untuk jurus dasar bagi keperluan khusus olahraga dan bela diri. Sedangkan pengembangannya telah diserahkan kepad setiap perguruan yang ada. Sistem pembinaan yang dipakai oleh IPSI ialah setiap aspek yang ada dijadikan jalur pembinaan, sehingga jalur pembinaan Pencak Silat meliputi :



1. Jalur pembinaan seni
2. Jalur pembinaan olahraga
3. Jalur pembinaan bela diri
4. Jalur pembinaan kebatinan



Keempat jalur ini diolah, dengan saringan dan mesin sosial budaya, yaitu Pancasila.



… Makna Lambang IPSI





Warna Dasar Putih : berarti suci dalam amal perbuatan



Warna Merah : berarti berani dalam kebenaran



Warna Hijau : berarti ketenangan dalam menghadapi segala sesuatu yang menuju kemantapan
jiwa, karena selalu beriman dan bertauhid kepada Tuhan Yang Maha Esar
secara hikmat dan syahdu



Warna Kuning : berarti bahwa IPSI mengutamakan budi pekerti dan kesejahteraan lahir dan batin
dalam menuju kejayaan nusa dan bangsa



Bentuk Perisai Segi Lima : berarti bahwa IPSI berasaskan landasan idiil Pancasila, serta bertujuan
membentuk manusia Pancasila sejati



Sayap Garuda berwarna



Kuning berototkan merah : berarti kekuatan bangsa Indonesia yang bersendikan kemurnian, keluruhan dan
dinamika, Sayap 18 lembar, bulu 5 lembar + 4 lembar + 8 lembar berarti tanggal
berdirinya IPSI adalah 18 Mei 1948. Sayap 18 lembar, terdiri dari 17+1 berarti
IPSI dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan berssatu membangun negara



Untaian lima lingkaran : melambangkan bahwa IPSI melalui olahraga merupakan ikatan peri
kemanusiaan antara pelbagai aliran dengan memegang teguh asas kekeluargaan,
persaudaraan dan kegotong royongan



Ikatan pita berwarna merah



Putih : bahwa IPSI merupakan suatu ikatan pemersatu dari pelbagai aliran Pencak
Silat, yang menjadi hasil budaya yang kokoh karena dilandasi oleh rasa
berbangsa, berbahasa dan bertanah air Indonesia.



Gambar tangan putih



di dalam Dasar hijau : menggambarkan bahwa IPSI membantu negara dalam bidang ketahanan
nasional melalui pembinaan mental/fisik agar kader-kader IPSI berkepribadian
nasional serta berbadan sehat, kuat dan tegap