Senin, 11 Februari 2013

bakti karya mahasiswa

SMKN PURWOSARI BOJONEGORO

VISI DAN MISI SMK NEGERI PURWOSARI I. VISI SMK NEGERI PURWOSARI Visi adalah Pandangan jauh kedepan kemana sekolah akan dibawa atau gambaran masa depan yang diinginkan sekolah.maka SMK Negeri Purwosari mengambil visi yang sesuai dengan potensi wilayah dan profil sekolah, yaitu ; “Menghasilakan tamatan yang terampil, mandiri dan berwawasan Imtaq dan Iptek” II. MISI SMK NEGERI PURWOSARI Misi adalah tindakan untuk mewujudkan visi. Untuk mewujudkan visi maka SMK Negeri Purwosari menuangkan kedalam indikator ketercapaian misi sebagai berikut ; Melakukan Pembelajaran yang efektif Melakukan diklat secara efektif Meningkatkan kerjasama dengan DU / DI Membentuk pribadi yang beriman dan bertaqwa Dimana Sekolah Menengah Kejuruan adalah mencetak produk atau jasa maka SMK Negeri Purwosari ingin menjual trade mark yang berbeda dengan SMK yang lain. Jadi setiap tahun minimal lulusannya dapat bersaing dengan sekolah yang sudah dikarenakan dari tahun ke tahun lulusannya mampu menembus persaingan di tingkat nasional walaupun masih hanya beberapa siswa. Itu tidak terlepas dari peran 4 program keahlian yang ada di SMK Negeri Purwosari yaitu 1. Teknik Kendaraan Ringan ( TKR ) 2. Teknik Pemesinan ( TPm ) 3. Rekayasa Perangkat Lunak ( RPL ) 4. Akuntansi (AK ) Sehingga tiap – tiap program keahlian bersaing dan mempunyai misi yang sama yaitu mencetak lulusan yang mampu beradaptasi dengan dunia kerja atau industri ( DU / DI ). TUJUAN Sesuai dengan Visi dan Misi maka SMKN Purwosari bertujuan untuk : Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana penunjang pembelajaran khususnya peralatan praktek untuk pembelajaran mata diklat atau mata pelajaran produktif. Meningkatkan pemerataan dan perluasan akses pendidikan khususnya dalam rangka penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 12 tahun. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang pendidikan sebagai implementasi dari Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Mendukung terlaksananya pembelajaran yang inovatif, diantaranya Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Memenuhi standart kompetensi industri dengan target certificate ISO 9001 : 2008. Mendukung tecapainya Standar Nasional Pendidikan Fasilitas SMKN Purwosari – Bojonegoro Fasilitas pendidikan di sekolah dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan pendidikan ; Ruang Teori : untuk mata pelajaran normatif dan adaptif. Ruang praktek / bengkel kerja dan laboratorium : untuk mata pelajaran produktif, meliputi : Bengkel TPm, Bengkel TKR, Lab. Komputer, Lab. Kimia,Perpustakaan Lapangan OR : Sepak Bola, Bola Volly, Basket, Tenis Lapangan, Bulu Tangkis,Futsal R. Perpustakaan, R. BKK, R. PSG, R. BP/BK, R. ISO, R. Pendidikan, R. Guru, R. Tata Usaha, Kopsis, OSIS, Ruang UKS dan Mushola.Wifi – Zone PRAKTEK KERJA INDUSTRI (PRAKERIN) Pengertian Praktek Kerja Industri Prakerin adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di industri, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu. Tujuan Praktek Kerja Industri- Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional.- Memperkokoh Link and Match antara sekolah dengan dunia kerja- Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkwalitas profesional Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan. DATA POKOK SEKOLAH NPSN : 20541264 NSS : 321050513012 Nama SMK : SMK Negeri Purwosari Status : Negeri No SK Pendirian : 428 Tgl S : 10/14/2003 Penandatangan SK : Bupati PBM : Pagi Alamat : Jalan Raya Ngambon KM 1,5 Kecamatan : Purwosari Kab/ Kota : Bojonegoro Provinsi : Jawa Timur Kode Pos : 62161 Telepon : ( 0353 ) 7708955 Fax : ( 0353 ) 551863 Website : www.smknpwr-bjn.sch.id Email : smknpwrbjn@yahoo.co.id

Rabu, 26 Desember 2012

Sholli wasallim daa iman alah mada
Sholli wasallim daa iman alah mada
Wal ali wal ashaa biman qod wah hada
Wal ali wal ashaa biman qod wah hada

==================================

Eman lo wong Islam, ninggal Sholat wengi
Sak ben dalu turu, ora gelem tangi
Sholat wengi ngono, disenengi Gusti
Sopo gelem nyuwun, pasti di paringi



Sholat limang waktu, ayo podo njogo
Jama’ah nang masjid, bareng sak kluwargo
Ganjarane slawe, celengan suwargo
Malah biso dadi, pitu likur ugo

Yen Sholat kesusu, ora biso pernah
Rukuk lan sujude, ditoto sing genah
Sing khusyu’ lan khudhur, ugo tumakninah
Ngerteni sing wajib, lan ngerti sing sunah

Yen rumongso sugih, itungen donyone
Bagiane Zakat, ojo dilalekne
Dulur karo tonggo, sing podo miskine
kabeh podo nunggu, zakat bagiane

Yen karo tonggone, Sing apik atine
Yen kahanan longgar, mikiro butuhe
Sajak perlu utang, enggal di peringne
Nanging ojo nganti, njaluk anak ane

Ayo do ngurangi, nonton televisi
Timbang nonton TV, luweh becik ngaji
“Ahbaabul Musthofa” wadah kanggo ngaji
Kumpul poro Habaib lan poro Kyai

Eman lo wong ngaji, campur lanang wadon
Campur lanang wadon, lamun dudu mahrom
Biso biso malah, nglakoni sing harom
Ilmu gak manfa’at, rusak malah klakon

Lanang karo wadon, manggon sepi sepi
Nyanding senggal senggol koyok kebo sapi
Ngunu kuwi duso, nurut poro nabi
Ojo di terusno, yen durung di rabi

sejarah silat IPSI

Pencak silat merupakan salah satu hasil budaya bangsa Indonesia yang bersifat turun temurun, yang terdiri dari berbagai perguruan atau aliran pencak silat. Istilah pencak silat sendiri mulai dipakai sejak berdirinya organisasi pencak silat Indonesia, yakni Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Organisasi pencak silat di Indonesia yang disebut dengan Ikatan Pencak Silat Indonesia atau disingkat IPSI didirikan pada tanggal 18 mei 1948 di Surakarta, diprakarsai oleh Mr. Wongsonegoro, yang saat itu menjabat sebagai ketua pusat kebudayaan Kedu (Lubis, 2004:2). Organisasi pencak silat di Indonesia terdiri dari berbagai macam perguruan pencak silat. Beberapa perguruan tersebut diantaranya adalah: Perisai Putih, Putra Putih, Perpi Harimurti, Perisai Diri, Prashaja Mataram, Keluarga Pencak silat Nusantara, PPSI (Persatuan Pencak Silat Indonesia), Setia Hati, Tapak Suci, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Untuk selanjutnya sepuluh perguruan tersebut diberi istilah 10 Perguruan Historis (Lubis, 2004:4). Salah satu perguruan historis pemrakarsa berdirinya Ikatan Pencak Silat Indonesia adalah Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Persaudaraan Setia Hati Terate berbentuk organisasi, dan didirikan pada tahun 1922 di Madiun dan berkedudukan di Madiun, Jawa Timur Indonesia (PSHT,2011:1). Susunan organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate ditingkat pusat disebut pengurus pusat, di tingkat Kota/Kabupaten/Kota administratif disebut pengurus cabang, ditingkat lembaga perguruan tinggi dan di luar negeri disebut pengurus komisariat, dan ditingkat kelurahan/desa disebut pengurus rayon (PSHT,2011:3). Keanggotaan dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate tersebut dibagi menjadi dua, yakni Warga dan Siswa. Warga adalah anggota tetap yang telah disahkan sesuai dengan tata cara yang berlaku pada organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate. Seorang warga berhak memberikan pelajaran pencak silat kepada siswa. Sedangkan siswa ialah anggota yang belum disahkan menjadi anggota tetap dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT,2011:7). Tingkatan siswa dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate dibagi menjadi empat tingkatan, yakni tingkat sabuk polos (hitam), tingkat sabuk jambon (merah muda), tingkat sabuk hijau, dan tingkat sabuk putih” (PSHT,2011:24). Untuk mencapai tingkatan Warga (anggota tetap PSHT), seorang siswa diwajibkan mengikuti dan menguasai pelajaran pencak silat yang diberikan oleh pelatih sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate. Kurikulum tersebut berisi materi pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate yang disusun sesuai tingkatan sabuk siswa. Siswa tingkat sabuk putih yang yang telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dengan melalui testing oleh pengurus cabang diajukan kepada pengurus pusat untuk dapat disahkan menjadi Warga atau menjadi anggota tetap organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT,2011:7)

Kamis, 02 Agustus 2012

UKKI UNESA

BAKTI KARYA MAHASISWA KE XXII UKKI UNESA

Kegiatan Bakti karya Mahasiswa kali ini di laksanakan di Desa Carang Wulung Kec. Wonosalam Kab. Jombang. merupakn pengalamn penulis pertama dalam mengikuti pengabdian masyarakat, alhamdulillah sampai sekarang hubungan tersebut masih berlanjut, minimal 1 tahun sekali penulis sambang ke sana, akan ku ingat keluarga baru ku di sana, mak Siti, mbak mi, dania, pak supri, pak Siit, dan semuanya warga dusun ngeseng......

Sabtu, 14 Juli 2012

KALENDER JAWA

Sistim Penanggalan Jawa Sistim Penanggalan Jawa lebih lengkap dan komprehensif apabila dibandingkan dengan sistim penanggalan lainnya, lengkap dan komprehensifnya adalah suatu pembuktian bahwa ketelitian Jawa dalam mengamati kondisi dan pengaruh seluruh alam semesta terhadap planet bumi seisinya termasuk pengaruh kepada pranatan kehidupan manusia, dapat disampaikan antara lain adanya rumusan tata penanggalan jawa sebagai berikut : 1. Pancawara – Pasaran; Perhitungan hari dengan siklus 5 harian : 1. Kliwon/ Kasih 2. Legi / Manis 3. Pahing / Jenar 4. Pon / Palguna 5. Wage / Kresna/ Langking 2. Sadwara – Paringkelan, Perhitungan hari dengan siklus 6 harian 1. Tungle / Daun 2. Aryang / Manusia 3. Wurukung/ Hewan 4. Paningron / Mina/Ikan 5. Uwas / Peksi/Burung 6. Mawulu / Taru/Benih. 3. Saptawara – Padinan, Perhitungan hari dengan siklus 7 harian : 1. Minggu / Radite 2. Senen / Soma 3. Selasa / Anggara 4. Rebo / Budha 5. Kemis / Respati 6. Jemuwah / Sukra 7. Setu / Tumpak/Saniscara 4. Hastawara – Padewan, Perhitungan hari dengan siklus 8 harian : 1. Sri 2. Indra 3. Guru 4. Yama 5. Rudra 6. Brama 7. Kala 8. Uma 5. Sangawara – Padangon, Perhitungan hari dengan siklus 9 harian : 1. Dangu / Batu 2. Jagur / Harimau 3. Gigis / Bumi 4. Kerangan / Matahari 5. Nohan / Rembulan 6. Wogan / Ulat 7. Tulus / Air 8. Wurung / Api 9. Dadi / Kayu 6. Wuku, Perhitungan hari dengan siklus mingguan dari 30 wuku : 1. Sinta……..11. Galungan……..21. Maktal 2. Landhep……12. kuningan……..22. Wuye 3. Wukir……..13. Langkir………23. Manahil 4. Kurantil…..14. Mandhasiya……24. Prangbakat 5. Tolu………15. Julungpujud…..25. Bala 6. Gumbreg……16. Pahang……….26. Wugu 7. Warigalit….17. Kuruwelut…….27. Wayang 8. Warigagung…18. Marakeh………28. Kulawu 9. Julungwangi..19. Tambir……….29. Dhukut 10. Sungsang….20. Medhangkungan…30 Watugunung 7. Sasi Jawa – ada 12 : 1. Sura………5. Jumadilawal…9. Poso 2. Sapar……..6. Jumadilakhir..10. Sawal 3. Mulud……..7. Rejeb………11. Dulkangidah 4. Bakdomulud…8. Ruwah………12. Besar 8. Tahun Jawa – ada 8 : 1. Alip……..4. Je….7. Wawu 2. Ehe………5. Dal…8. Jimakir 3. Jimawal…..6. Be 9. Windu – umurnya 8 tahun : 1. Adi / Linuwih 2. Kuntara / Ulah 3. Sengara / Panjir 4. Sancaya / Sarawungan 10. Lambang – umurnya 8 tahun jumlahnya ada 2 : 1. Lambang Langkir 2. Lambang Kulawu. 11. Kurup – umurnya 15 windu atau 120 tahun, ada 7 kurup (menurut tanggal 1 Suro tahun Alip) : 1. Senen /Isananiyah….5. Jemuah / Jamngiyah 2. Selasa Salasiyah…..6. Setu / Sabtiyah 3. Rebo / Arbangiyah….7. Akad / akdiyah 4. Kemis / Kamsiyah 12. Mangsa- jumlahnya 12 : 1. Kasa / Kartika 2. Karo / Pusa 3. Katiga / Manggasri 4. Kapat / Setra 5. Kalima / Manggala 6. Kanem / Maya 7. Kapitu / Palguna 8. Kawolu / Wisaka 9. Kasanga / Jita 10. Kasepuluh / Srawana 11. Kasewelas / Sadha 12. Karolas / Asuji Sistim Penanggalan Jawa disebut juga Penanggalan Jawa Candrasangkala atau perhitungan penanggalan bedasarkan peredaran Bulan mengitari Bumi. Petungan penanggalan Jawa sudah dicocokkan dengan penanggalan Hijriah. namun demikian pencocokkan ini bukanlah menjiplak sepenuhnya juga memperhunakan perhitungan yang rumit oleh para leluluhur kita. Ada perbedaan yang hakiki antara sistim perhitungan penanggalan Jawa dengan penanggalan Hijriah, perbedaan yang nyata adalah pada saat penetapan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan. Candrasangkala Jawa menetapkan bahwa pergantian hari ketika pergantian sasi waktunya adalah tetap yaitu pada saat matahari terbenam (surup – antara pukul 17.00 sampai dengan 18.00), sedangkan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan pada penanggalan Hijriah ditentukan melalui Hilal dan Rukyat. Mencari hari baik Dalam melakukan hajat perkawinan, mendirikan rumah, bepergian dan sebagainya. Kebanyakan orang jawa dahulu, mendasarkan atas hari yang berjumlah 7(senin-minggu) dan pasaran yang jumlahnya ada 5, tiap hari tentu ada rangkapannya pasaran, jelasnya : tiap hari tentu jatuh pada pasaran tertentu. Menurut peritungan Jawa pada umumnya dikenal 7 hari yang masing-masing mempunyai jumlah berlainan; •Akad (Minggu) jumlah naptu 5 •Senen (Senin) jumlah naptu 4 •Selasa (selasa)jumlah naptu 3 •Rebo (Rabu) jumlah naptu 7 •Kemis (Kamis) jumlah naptu 8 •Jumuah (Jum’at)jumlah naptu 6 •Setu (Sabtu) jumlah naptu 9 Selain hari, orang Jawa juga sangat percaya adanya watak yang diakibatkan dari pengaruh Dasaran. dikenal adanya 5 pasaran yaitu •Kliwon jumlah naptunya 8 •Legi jumlah naptunya 5 •Pahing jumlah naptunya 9 •Pon jumlah naptunya 7 •Wage jumlah naptunya 4 Neptu hari atau pasaran kelahiran untuk perkawinan Hari dan pasaran dari kelahiran dua calon temanten yaitu anak perempuan dan anak lelaki masing-masing dijumlahkan dahulu, kemudian masing masing dibuang (dikurangi) sembilan. Misalnya : Kelahiran anak perempuan adalah hari Jumat (neptu 6) wage (neptu 4) jumlah 10, dibuang 9 sisa 1 Sedangkan kelahiran anak laki-laki ahad (neptu 5) legi (neptu 5) jumlah 10 dikurangi 9 sisa 1. Menurut perhitungan dan berdasarkan sisa diatas maka perhitungan seperti dibawah ini: Apabila sisa: 1 dan 4 : banyak celakanya 1 dan 5 :bisa 1 dan 6 : jauh sandang pangannya 1 dan 7 : banyak musuh 1 dan 8 : sengsara 1 dan 9 : menjadi perlindungan 2 dan 2 : selamat, banyak rejekinya 2 dan 3 : salah seorang cepat wafat 2 dan 4 : banyak godanya 2 dan 5 : banyak celakanya 2 dan 6 : cepat kaya 2 dan 7 : anaknya banyak yang mati 2 dan 8 : dekat rejekinya 2 dan 9 : banyak rejekinya 3 dan 3 : melarat 3 dan 4 : banyak celakanya 3 dan 5 : cepat berpisah 3 dan 6 : mandapat kebahagiaan 3 dan 7 : banyak celakanya 3 dan 8 : salah seorang cepat wafat 3 dan 9 : banyak rejeki 4 dan 4 : sering sakit 4 dan 5 : banyak godanya 4 dan 6 : banyak rejekinya 4 dan 7 : melarat 4 dan 8 : banyak halangannya 4 dan 9 : salah seorang kalah 5 dan 5 : tulus kebahagiaannya 5 dan 6 : dekat rejekinya 5 dan 7 : tulus sandang pangannya 5 dan 8 : banyak bahayanya 5 dan 9 : dekat sandang pangannya 6 dan 6 : besar celakanya 6 dan 7 : rukun 6 dan 8 : banyak musuh 6 dan 9 : sengsara 7 dan 7 : dihukum oleh istrinya 7 dan 8 : celaka karena diri sendiri 7 dan 9 : tulus perkawinannya 8 dan 8 : dikasihi orang 8 dan 9 : banyak celakanya 9 dan 9 : liar rejekinya Neptu hari dan pasaran dari kelahiran calon mempelai laki-laki dan perempuan, ditambah neptu pasaran hari perkawinan dan tanggal (bulan Jawa) semuanya dijumlahkan kemudian dikurangi/ dibuang masing tiga, apabila masih sisa : 1 = berarti tidak baik, lekas berpisah hidup atau mati 2 = berarti baik, hidup rukun, sentosa dan dihormati 3 = berarti tidak baik, rumah tangganya hancur berantakan dan kedua-duanya bisa mati. Neptu hari dan pasaran dari kelahiran calon mempelai laki-laki dan perempuan, dijumlah kemudian dikurangi / dibuang empat-empat apabila sisanya : 1 = Getho, jarang anaknya, 2 = Gembi, banyak anak, 3 = Sri banyak rejeki, 4 = Punggel, salah satu akan mati Hari kelahiran mempelai laki-laki dan mempelai wanita, apabila : Ahad dan Ahad, sering sakit Ahad dan Senin, banyak sakit Ahad dan Selasa, miskin Ahad dan Rebo, selamat Ahad dan Kamis, cekcok Ahad dan Jumat, selamat Ahad dan Sabtu, miskin Senen dan Senen, tidak baik Senen dan Selasa, selamat Senen dan Rebo, anaknya perempuan Senen dan Kamis, disayangi Senen dan Jumat, selamat Senen dan Sabtu, direstui Selasa dan Selasa, tidak baik Selasa dan Rebo, kaya Selasa dan Kamis, kaya Selasa dan Jumat, bercerai Selasa dan Sabtu, sering sakit Rebo dan Rebo, tidak baik Rebo dan Kamis, selamat Rebo dan Jumat, selamat Rebo dan Sabtu, baik Kamis dan Kamis, selamat Kamis dan Jumat, selamat Kamis dan Sabtu, celaka Jumat dan Jumat, miskin Jumat dan Sabtu celaka Sabtu dan Sabtu, tidak baik HARI-HARI UNTUK MANTU DAN IJAB PENGANTIN (baik buruknya bulan untuk mantu): 1. Bulan Jw. Suro : Bertengkar dan menemui kerusakan (jangan dipakai) 2. Bulan Jw. Sapar : kekurangan, banyak hutang (boleh dipakai) 3. Bulan Jw Mulud : lemah, mati salah seorang (jangan dipakai) 4. Bulan jw. Bakdamulud : diomongkan jelek (boleh dipakai) 5. Bulan Jw. Bakdajumadilawal : sering kehilangan, banyak musuh (boleh dipakai) 6. Bulan Jw. Jumadilakhir : kaya akan mas dan perak 7. Bulan Rejeb : banyak kawan selamat 8. Bulan Jw. Ruwah : selamat 9. Bulan puasa : banyak bencananya (jangan dipakai) 10. Bulan Jw. Syawal : sedikit rejekinya, banyak hutang (boleh dipakai) 11. Bulan Jw. Dulkaidah : kekurangan, sakit-sakitan, bertengkar dengan teman (jangan dipakai) 12. Bulan Jw. Besar : senang dan selamat BULAN TANPA ANGGARA KASIH Hari anggara kasih adalah selasa kliwon, disebut hari angker sebab hari itu adalah permulaan masa wuku. Menurut adat Jawa malamnya (senin malam menghadap) anggara kasih orang bersemedi, mengumpulkna kekuatan batin untuk kesaktian dan kejayaan. Siang harinya (selasa kliwon) memelihara, membersihkan pusaka wesi aji, empu mulai membikin keris dalam majemur wayang. Bulan – bulan anggoro kasih tidak digunakan untuk mati, hajat-hajat lainnya dan apa saja yang diangggap penting. Adapun bulan-bulan tanpa anggara kasih adalah: 1. dalam tahun Alib bulan 2 : Jumadilakhir dan besar 2. dalam tahun ehe bulanl 2 dan : jumadilakhir 3. dalam tahun jimawal bulan 2 : Suro dan rejeb 4. dalam tahun Je bulan 2 : Sapar 5. dalam tahun Dal bulan 2 : yaitu sapar dan puasa 6. dalam tahun Be bulan 2 : mulud dan syawan 7. dalam tahun wawu bulan 2 : Bakdomulud/syawal 8. dalam tahuin Jimakir bulan 2 : Jumadilawal dan Dulkaidkah SAAT TATAL Saat tatal dibawah ini untuk memilih waktu yang baik untuk mantu juga untuk pindah rumah, berpergian jauh dan memulai apa saja yang dianggap penting. Ketentuan saat itu jatuh pada pasaran (tidak pada harinya ) : 1. pasaran legi : mulai jam 06.00 nasehet.mulai jam 08.24 Rejeki : mulai jam 25.36 rejeki mulai dri jam 10 48 selamat, mulai jam 13.12 pangkalan atau (halangan) mulai jam 15.36 pacak wesi 2. pasaran pahing : mulai jam 06.00 rejeki, jam 08.24 selamat, jam 10.48 pangkalan, jam 13.12 pacak wesi, jam 15.36 nasehat. 3. pasaran pon : mulai jam 06.00 selamat, jam 08.24 pangkalan, jam 10.48 pacak wesi, jam 13.12 nasehat, jam 15.36 rejeki 4. pasaran wage mulai jam 06.00 pangkalan, jam 08.24 pacak wesi, jam 13.12 nasehat jam 15.36 selamat. 5. pasaran kliwon, mulai jam 06.00 pacak wesi, jam 08.24 nasehat, jam 10.48 rejeki, jam 13-12 selamat jam 13.36 pangkalan. HARI PASARAN UNTUK PERKAWINAN Neptu dan hari pasaran dijumlah kemudian dikurangi/dibuang enam-enam apabila tersisa: 1 jatuh, mati, (tidak baik) asalnya bumi 2 jatuh, jodoh (baik) asalnya jodoh dengan langit 3 jatuh , selamat atau baik asalnya barat 4 jatuh, cerai atau tidak baik asalnya timur 5 jatuh, prihatin (tidak baik) asalnya selatan 6 jatuh, mati besan (tidak baik) asalnya utara Dalam berdagang orang jawa mempunyai petungan (prediksi) khusus untuk mencapai sukses atau mendapatkan angsar (pengaruh nasib) yang baik, sehingga menjadikan rezekinya mudah. Diantaranya petungan tersebut sebagai berikut : Dalam “kitab primbon” (pustaka kejawen) terdapat berbagai cara dan keyakinan turun-temurun yang harus dilakukan orang yang akan melakukan kegiatan usaha perdagangan. Untuk memulai suatu usaha perdagangan orang jawa perlu memilih hari baik, diyakini bahwa berawal dari hari baik perjalanan usahapun akan membuahkan hasil maksimal, terhindar dari kegagalan. Menurut pakar ilmu kejawen abdi dalem Karaton Kasunanan Surakarta, Ki KRM TB Djoko MP Hamidjoyo BA bahwa berdasarkan realita supranatural, menyiasati kegagalan manusia dalam usaha perlu diperhatikan. Prediksi menurut primbon perlu diperhatikan meski tidak sepenuhnya diyakini. Menurut Kitab Tafsir Jawi, dina pitu pasaran lima masing-masing hari dan pasaran karakter baik. Jika hari dan pasaran tersebut menyatu, tidak secara otomatis menghasilkan karakter baik. Demikian juga dengan bulan suku, mangsa, tahun dan windu, masing-masing memiliki karakter baik kalau bertepatan dengan hari atau pasaran tertentu. Golek dina becik (mencari hari yang baik) untuk memulai usaha dagang pada hakekatnya adalah mencari perpaduan hari, pasaran, tahun, windu dan mangsa yang menghasilkan penyatuan karakter baik. Misalnya pada hari rebo legi mangsa kasanga tahun jimakir windu adi merupakan penyatuan anasir waktu yang menghasilkan karakter baik. Setiap karya akan berhasil sesuai dengan kodrat, jika dilakukan dalam kondisi waktu yang netral dari pencemaran, sengkala maupun sukerta. Manusia diberi kesempatan oleh Tuhan untuk beriktiar menanggulangi sukerta dan sengkala dengan melakukan wiradat. Misalnya dengan ruwatan atau dengan ajian rajah kalacakra, sehingga kejadian buruk tidak menjadi kenyataan. Orang yang akan membuka usaha pun dapat melakukan upaya sendiri pada malam hari sebelum memulai usaha, yaitu berdoa mendasari doa kepada Tuhan sambil mengucapkan mantera rajah kalacakra Salam, salam, salam Yamaraja jaramaya, yamarani niramaya, yasilapa palasiya, yamidora radomiya, yamidasa sadamiya, yadayuda dayudaya, yasilaca silacaya, yasihama mahasiya. Kemudian menutup dengan mantera Allah Ya Suci Ya Salam sebanyak 11 kali. Untuk usaha perdagangan orang jawa yang masih percaya pada petung, akan menggunakannya baik untuk menentukan jenis barang maupun tempat berdagang dan sebagainya. Petung tersebut didasarkan weton (kelahiran dari yang bersangkutan) Peluang merupakan filsafat kosmosentris bahwa manusia dan alam tidak dapat dipisahkan. Manusia merupakan bagian dari alam semesta sehingga geraknya tidak dapat lepas dari gerak alam, sebagaimana waktu dan arah mata angin. Orang jawa mempunyai keyakinan bahwa saat dilahirkan manusia tidak sendirian karena disertai dengan segala perlengkapannya. Perlengkapan itu merupakan sarana untuk bekal hidup dikemudian hari, yaitu bakat dan jenis pekerjaan yang cocok. Di dalam ilmu kejawen kelengkapan itu dapat dicari dengan petung hari lahir, pasaran, jam, wuku tahun dan windu. Menurut Usman petung sekedar klenik atau gugon tuhon melainkan merupakan hasil analisa dari orang-orang jawa pada masanya. Hasil analisa itu ditulis dalam bentuk primbon. Dengan petungan jawa, orang dapat membuat suatu analisa tentang anak yang baru lahir berdasarkan waktu kelahirannya. Misalnya anak akan berhasil jika menjadi wartawan, atau sukses jika menjadi pedagang. Petung yang demikian itu juga digunakan di dalam dunia perdagangan. Orang jawa masih mempercayainya, akan menggunakan petung dengan cermat. Dari menentukan jenis dagangan waktu mulai berdagang diperhitungkan. Semua sudah ada ketentuannya berdasar waktu kelahiran yang bersangkutan. Penerapan petung untuk usaha perdagangan akan menambah kemungkinan dan percaya diri untuk meraih sukses. Kepercayaan diri akan membuat lebih tepat dalam mengambil keputusan. Prediksi menurut petung di dalam perdagangan bukan hanya ada pada budaya orang jawa saja. Dalam budaya Cina misalnya, hingga kini perhitungan itu masih berperan besar, sekali pun pengusaha Cina itu sudah menjadi konglomerat. Di Cina petung itu ada dalam Kitab Pek Ji atau Pak Che (delapan angka) yang juga berdasarkan kelahiran seseorang, yaitu tahun kelahiran memiliki nilai 2, bulan nilai 2, hari memiliki nilai 2 dan jam kelahiran nilai 2. Meskipun orang lahir bersamaan waktu, rezeki yang diperoleh tidak sama karena yang satu menggunakan petung sedangkan yang lainnya tidak. Banyak pula orang yang tidak mempercayai petung. Mereka menganggapnya klenik atau tahayul. Mereka berpendapat dengan rasionya dapat manipulasi alam. Anggapan demikian belum pas, meskipun manusia dapat merekayasa, alam ternyata akan berjalan sesuai dengan mekanismenya sendiri Untuk perhitungan mendirikan / pindahan rumah A. Pertama-tama yg diperhitungakan adalah Bulan Jawa, yaitu : 1. Bulan Sura = tidak baik 2. Bulan Sapar = tidak baik 3. Bulan Mulud (Rabingulawal) = tidak baik 4. Bulan Bakdamulud (Rabingulakir) = baik 5. Bulan Jumadilawal = tidak baik 6. Bulan Jumadilakir = kurang baik 7. Bulan Rejeb = tidak baik 8. Bulan Ruwah (Sakban) = baik 9. Bulan Pasa (Ramelan) = tidak baik 10. Bulan Sawal = sangat tidak baik 11. Bulan Dulkaidah = cukup baik 12. Besar = sangat baik Berdasarkan perhitungan diatas, bulan yg baik adalah : Bakdamulud, Ruwah, Dulkaidah, dan Besar. B. Langkah kedua yaitu menghitung jumlah hari dan pasaran dari suami serta istri. 1. Suami = 29 Agustus 1973 - Rabu = 7 - Kliwon = 8 - Neptu (Total) = 15 2. Istri = 21 Desember 1976 - Selasa = 3 - Kliwon = 8 - Neptu (Total) = 11 Jumlah Neptu Suami + Istri = 15 + 11 = 36 C. Langkah ketiga, menghitung Pancasuda. Jumlah ((Neptu suami + Neptu Istri + Hari Pindahan/Pendirian Rumah) : 5). Bila selisihnya 3, 2, atau 1 itu sangat baik. Cara ini disebut PANCASUDA. PANCASUDA : 1. Sri = Rejeki Melimpah 2. Lungguh = Mendapat Derajat 3. Gedhong = Kaya Harta Benda 4. Lara = Sakit-Sakitan 5. Pati = Mati dalam arti Luas Lalu mengurutkan angka hari pasaran mulai dari jumlah yang paling kecil yaitu (selasa (3) + wage (4) = 7), hingga sampai jumlah yang paling besar yaitu (Sabtu (9) + Pahing (9) = 18. 7 + 36 = 43 : 5 sisa 3 = Cukup Baik 8 + 36 = 44 : 5 sisa 4 = Tidak Baik 9 + 36 = 45 : 5 sisa 5 (yg habis dibagi 5 dianggap sisa 5) = Jelek Sekali 10 + 36 = 46 : 5 sisa 1 = Baik Sekali 11 + 36 = 47 : 5 sisa 2 = Baik 12 + 36 = 48 : 5 sisa 3 = Cukup Baik 13 + 36 = 49 : 5 sisa 4 = Tidak Baik 14 + 36 = 50 : 5 sisa 5 = Jelek Sekali 15 + 36 = 51 : 5 sisa 1 = Baik Sekali 16 + 36 = 52 : 5 sisa 2 = Baik 17 + 36 = 53 : 5 sisa 3 = Cukup Baik 18 + 36 = 54 : 5 sisa 4 = Tidak Baik Dari paparan tersebut diketahui hari baik untuk mendirikan rumah tinggal, khusus bagi pasangan suami–istri yang hari-pasaran-lahir keduanya berjumlah 36 adalah : Terbaik 1 : a. hari-pasaran berjumlah 10 ( Selasa Pon, Jumat Wage dan Minggu Legi) b. hari-pasaran berjumlah 15 (Rabu Kliwon, Kamis Pon dan Jumat Pahing) Terbaik 2 : a. hari-pasaran berjumlah 11 (Senin Pon, Selasa Kliwon, Rabu Wage dan Jumat legi) b. hari-pasaran berjumlah 16 (Rabu Pahing, Kamis Kliwon dan Sabtu Pon) Terbaik 3 : a. hari-pasaran berjumlah 7 (Selasa Wage) b. hari-pasaran berjumlah 12 (Senin Kliwon, Selasa Pahing, Rabu Legi, Kamis Wage dan Minggu Pon) c. hari-pasaran berjumlah 17 (Kamis Pahing dan Sabtu Kliwon) D. Selanjutnya pilih salah satu dari 21 hari baik yang berada dalam bulan Bulan Bakdamulud, Bulan Ruwah, Bulan Dulkaidah dan Bulan Besar, yaitu: 1. Bulan Bakdamulud (Rabingulakir) Bulan baik untuk mendirikan sesuatu termasuk rumah tinggal. Keluarga yang bersangkutan mendapat wahyu keberuntungan, apa yang diinginkan terlaksana, cita-citanya tercapai, selalu menang dalam menghadapi perkara, berhasil dalam bercocok-tanam, berkelimpahan emas dan uang, mendapat doa restu Nabi, dan lindungan dari Allah. 2. Bulan Ruwah (Sakban) Bulan baik untuk mendirikan rumah tinggal. Rejeki melimpah dan halal, disegani, dihormati dan disenangi orang banyak, mendapat doa Rasul. 3. Bulan Dulkaidah Cukup baik, dicintai anak istri, para orang tua, saudara, dan handaitaulan. Dalam hal bercocok-tanam lumayan hasilnya. Banyak rejeki dan cukup uang. Keadaan keluarga harmonis, tentram, damai dan mendapatkan doa dari Rasul. 4. Bulan Besar. Baik, banyak mendapat rejeki, berkelimpahan harta-benda dan uang. Anggota keluarga yang berdiam di areal rumah-tinggalnya yang dibangun pada bulan Besar merasakan ketentraman lair batin, serta dihormati. Terbaik 1 : 1. Selasa Pon, 2. Jumat Wage, 3. Minggu Legi, 4. Rabu Kliwon, 5. Kamis Pon, 6. Jumat Pahing, Terbaik 2 : 7. Senin Pon, 8. Selasa Kliwon, 9. Rabu Wage, 10. Jumat legi, 11. Rabu Pahing, 12. Kamis Kliwon, 13. Sabtu Pon, Terbaik 3 : 14. Selasa Wage, 15. Senin Kliwon, 16. Selasa Pahing, 17. Rabu Legi, 18. Kamis Wage, 19. Minggu Pon, 20. Kamis Pahing, 21. Sabtu Kliwon, Contoh : Jum’at Pahing - 20 April 2007 - 07 September 2007 - 21 Desember 2007 Dalam astrologi Jawa juga dikenal adanya bintang, yang biasa disebut Wuku; ada 30 wuku yang masing-masing mempunyai Dewa (Betara) pelindung (yang kemudian sering dijadikan simbol dari wuku tersebut, seperti misalnya dalam zodiak Sagitarius disimbolkan manusia dengan badan kuda sedang memanah), hari baik, hari sial, dan watak serta bakat sendiri-sendiri. Ke 30 wuku tersebut adalah sebagai berikut: 1 . Sinta dewa pelindung Dewa Betara Jamadipati 2. Landep dewa pelindung Dewa Betara Mahadewa 3. Wukir dewa pelindung Dewa Betara Mahajekti 4. Kurantil dewa pelindung Dewa Betara Langsur 5. Tolu dewa pelindung Dewa Betara Baju 6. Gumbreg dewa pelindung Dewa Betara Tjandra 7. Warigalit dewa.pelindung Dewa Betara Asmara 8. Warigagung dewa pelindung Dewa Betara Maharesi 9. Djulungwangi dewa pelindung Dewa Betara Sambu 10. Sungsang dewa pelindung Dewa Betara Gana 11. Galungan dewa pelindung Dewa Betara Kamadjaja 12. Kuningan dewa pelindung Dewa Betara Indera 13. Langkir dewa pelindung Dewa Betara Kala 14. Mandasija dewa pelindung Dewa Betara Brama 15. Djulungpudjud dewa pelindung Dewa Betara Guritna 16. Pahang dewa pelindung Dewa Betara Tantra 17. Kuruwelut dewa pelindung Dewa Betara Wisnu 18. Marakeh dewa pelindung Dewa Betara Surenggana 19. Tambir dewa pelindung Dewa Betara Siwah 20. Medangkungan dewa pelindung Dewa Betara Basuki 21. Maktal dewa pelindung Dewa Betara Sakri 22. Wuje dewa pelindung Dewa Betara Kuwera 23. Manahil dewa pelindung Dewa Betara Tjitragotra 24. Prangbakat dewa pelindung Dewa Betara Bisma 25. Bala dewa pelindung Dewa Betari Durga 26. Wugu dewa pelindung Dewa Betara Singdjalma 27. Wajang dewa pelindung Dewa Betari Sri 28. Kuwalu dewa pelindung Dewa Betara Sadana 29. Dukut dewa pelindung Dewa Betara Sakri 30. Watugunung dewa pelindung Dewa Betara Anantaboga Dalam memperhitungkan perjodohan seorang harus menghitung jumlah naptu dari hari pasaran kedua calon pengantin tersebut. Menurut kepercayaan di jawa, apabila naptu dari dua orang yang akan dijodohkan berjumlah 25 maka hubungan kedua belah tersebut tidak bisa dilanjutkan. Hal ini disebabkan 25 apabila dikurangi 24 tinggal satu (1) angka I ini tidak bisa dibagi dua (perkawinan melibatkan dua orang). Angka 24 ini diambil dari angka 3 dikalikan 8, jadi pada pokoknya angka yang paling dihindari adalah tiga (3). Angka tiga dianggap angka sial, karena angka ini adalah angka pati, tali yang mengikat orang mati (Jawa=Pocongan) berjumlah tiga, jumlah tali itulah yang kemudian dianggap sebagai jumlah angka yang membawa sial. Dan nampaknya orang Jawa pada umumnya masih sangat mempercayai perhitungan ini. Selain perhitungan jumlah hari pasaran, perkawinan pada masa lalu juga mempunyai pantangan tertentu, seseorang tidak boleh menikah dengan orang yang RUBUH KARANG yaitu: - Orang yang tinggal saling berhadapan - Orang yang tinggal saling membelakangi (ketemu punggung) - Orang yang tinggal tepat bersebelahan di kanan kiri Demikian keterangannya, semoga bermanfa’at…