Minggu, 25 April 2010

PRINSIP PEMOTONGAN DAN PEMATRIAN

Prinsip pemotongan dan pematrian
Pemotongan adalah cara memotong logam yang didasarkan atas mencairkan logam yang dipotong. Cara yang banyak digunakan dalam pengelasan adalah pemotongan dengan gas oksigen dan pemotongan dengan busur listrik.
Pemotongan dengan gas oksigen adalah pemotongan ini terjadi karena adanya reaksi antara oksigen dan baja, Pada ermulaan pemotongan baja dipanaskan lebih dulu dengan api oksi-aksitelin sampai mencapai suhu antara 800 sampai 900 C, kemudian gas oksigen tekanan tinggi atau gas pemotong lainya disemburkan kebagian yang dipanaskan tersebut dan terjadilah proses pembakaran yang membentuk oksida besi, karena titik oksida besi lebi rendah daripada baja, maka oksida tersebut akan menair dan terhebus oleh gas pemotong dengan ini terjadilah proses pemotongan
Hasil pemotongan dikatakan baik apabila memenuhi syarat syarat sebagau berikt:
1) Alur potong harus cukup kecil
2) Permukaan potong harus halus
3) Terak harus mudah terkelupas
4) Sisi atas pemotongan membulat
Pemotongan dengan busur listrik udara adalah cara memotong logam ini dimana logam yang dpotong dicairkan dengan menggunakan busur listrik yang dihasikan oleh elektroda karbon dan kemudian cairn logam disembur dengan udara tekan.
Cara pemotongan ini ternyata mempunyai efisiensi dua atau tiga kali lebih tinggi dari pada efisiensi pada pemotongan dengan gas, Disamping itu dalam pengelasan pemotongsn dengan busur udara akan menghasilkan daerah panas yang lebih sempit dan mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap logam induk bila dibandingkan dengan pemotongan gas. Karena hal-hal tersebut maka dalam pengelasan pemotongan busur udara lebih banyak digunakan daripada pemotongan dengan gas.
Pematrian adalah cara penyambungan dengan menggunakan logam pengisi atau logam patri diantara permukaan logam induk yang disambung, Logam pengisi selalu mempunyai titik cair yang lebih rendah daripada logam induk. Ada dua macam logam patri yaitu logam patri lunak dimana logamnya mempunyai titik cair lebih rendah dari 450 C dan logam patri yang yang mempunyai titik cair yang lebih dari 450 C yang disebut logam patri keras. Karena logam patri pada umumnya mempunyai kekuatan yang lebih rendah dari pada loga dasar, maka dianjurkan agar rongga antara keduapermuakaan logam induk yang dipatri diusahakan sekecil mungkin. Selama proses pematrian suhu harus cukup tinggi agar logam patri cair mempunyai derajat kecairan yang tinggi sehingga dapat mengair kedalam rongga antara kedua logam induk.
Logam logam yang digunakan sebagai logam patri adalah: paduan AG-Cu, kuningan dan tembaga yang biasanya dikelompokkan sebagai patri keras dan paduan Pb-Sn, Bi-Sn dan Bi-Sn-Pb sebagai patri lunak,
Berdasarkan cara pengadaan energi panasnya pematrian dibagi dalam tujuh kelompok yaitu:
 Patri busur, dimana panas dihasilkan dari busur listrik dengan elektroda karbon atau dengan elektroda wolfram
 Patri gas, dimana panas ditimbulkan karena adanya nyala api gas
 Patri solder, dimana panas dipindahkan dari solder besi atau tembaga yang dipanaskan
 Patri tanur, dimana tanur digunakan sebagai sumber panas
 Patri induksi, dimana panas dihasilkan karena induksi listrik frekwensi tinggi
 Patri resistensi dimana panas yang dihasilkan karena resistensi listrik
 Patri celup, dimana logam yang disambung dicelupkan kedalam logam patri cair
Sifat sifat patrian dapat diperbaiki dengan menggunakan fluks atau dengan mengatur atmosfir sekitar pematrian pada saat pematrian berlangsung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar